[Resensi Buku] 1 Perempuan 14 Lelaki : Tema yang Berulang

Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa memesan segelaa bir, tetapi kita tak pernah bisa memesan takdir.”

image

Bagaimana jadinya kalau seorang penulis perempuan berkolaborasi menulis cerpen dengan 14 orang lelaki yang memiliki latar belakang profesi yang berbeda-beda?

Kumpulan cerpen: 1 Perempuan 14 Laki-Laki akan menjawabnya. Djenar Maesa Ayu bersama 14 lelaki lainnya melahirkan 14 cerpen yang ditulis secara duet. Mulai dari cerpenis, aktor teater, seniman, presenter, penyiar radio, pemain band, pemain film, budayawan, sutradara, dosen, dalang wayang, kritikus film, hingga penari. Proses kreatif bersama keempat belas lelaki tersebut diceritakan Djenar di bagian pembuka kumpulan cerpennya.

Cerita pertama dibuka oleh Kunang-Kunang dalam Bir yang ditulis Djenar bersama Agus Noor. Berkisah tentang seorang lelaki yang mencoba mereguk kembali kenangannya bersama perempuan yang sangat ia cintai. Perempuan yang sayangnya lebih memilih menikahi lelaki lain.

Cerpen lainnya, Rembulan Ungu Kuru Setra, adalah cerpen kedelapan hasil kolaborasi Djenar dengan Sujiwo Tejo. Mengangkat tema perselingkuhan atas nama cinta. Menariknya, Sujiwo Tejo tak menanggalkan kekhasannya dengan menggunakan nama tokoh-tokoh pewayangan dan latar yang berhubungan dengan mitologi-mitologi.

Kamu tahu nggak, kata ayahku, Radityaputra itu nama lainnya Adipati Karna. Kesatria ini sebetulnya anak Kunti, nama lain Prita.” Raditya mengenang percakapan mereka saat salju membentuk jutaan bintang di muka danau beku.

Cerpen kesepuluh berjudul Bukumuka adalah hasil kolaborasi Djenar dengan Nugroho Suksmanto. Judul yang diambil dari terjemahan suatu situs jejaring pertemanan ini lagi-lagi berkisah tentang perselingkuhan. Hanya saja kisah ini ternyata berakhir lebih kompleks. Kusmanto, sang tokoh utama, pada akhirnya dihadapkan pada dilema: melompat dari lantai 36 gedung kantornya ataukah menghadapi kelakuan gila suami selingkuhannya?

Salah satu cerpen favorit saya adalah Ra Kuadrat karangan Djenar dengan aktor Lukman Sardi. Cerpen yang hanya mengambil porsi empat halaman ini berkisah tentang masa lalu sepasang suami istri, Rani dan Ranu. Rani, sang istri, secara tidak sengaja menemukan buku harian suaminya. Dari situ terkuaklah satu rahasia tentang masa lalu sang suami.

Keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki tema yang mirip-mirip. Seks, perselingkuhan, dendam, penyesalan dan perasaan sakit. Gaya berceritanya pun seperti cerpen-cerpen Djenar yang pernah saya baca, terkhusus konten-konten dewasa–dan vulgar. Terasa seperti semua cerita dalam buku ini adalah buah ide Djenar yang kemudian dikembangkan berdua. 

Konsep yang ditawarkan Djenar dengan menggaet 14 lelaki untuk berkolaborasi menulis cerpen sebenarnya sangat menarik. Hanya saja dalam proses pengeksekusiannya menurut saya tidak begitu berhasil. Beberapa tulisan bahkan berhasil membuat saya frustrasi karena tak mengerti apa yang ingin disampaikan. Bahkan ada beberapa cerpen yang saya baca berulang. Entah karena bahasanya yang terlalu ‘tinggi’ dan berbunga-bunga ataukah memang otak saya tidak cepat tanggap mencerna. Entah….

Terlepas dari kekurangan dan berbagai hal yang mengganjal di atas, saya mengapresiasi Djenar dan keempat belas lelaki yang menulis di dalam buku ini. Bagaimanapun, menulis berdua itu tidak mudah dan tantangannya bisa dua kali lipat juga. ^^
———————————–
Judul buku: 1 Perempuan 14 Lelaki | Penulis: Djenar Mesa Ayu, Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet Kertaredjasa, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, Totot Indrarto | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2011 | Jumlah halaman: xiv + 124 halaman | ISBN: 978-979-22-6608-5

Rating:

image

Advertisements

[Resensi Buku] Tiga Pertapa : Tolstoy dan Pesan Moral dalam Karyanya

Leo Tolstoy lahir pada tahun 1828 di Yasnaya Polyana, Rusia, di kalangan ningrat Rusia. Masa kuliah dihabiskan dengan berfoya-foya, berjudi, dan minum-minum.

Pada tahun 1856 Tolstoy melakukan perjalanan keliling Eropa Barat. Kegelisahan jiwanya mulai menemukan arah dalam perjalanannya. Ia mulai mempertanyakan kesia-siaan hidup manusia. Selama sisa hidupnya ia bergulat dengan spiritualitas yang diyakininya.

Pada usia 34, Tolstoy menikah dan menghabiskan 15 tahun berikutnya di rumah keluarga besarnya. Di sana ia menulis novel yang mengukuhkan namanya di jagat sastra–War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873).

Pertanyaan tentang makna dan tujuan hidup masih memburunya. Ia menjadi pembaharu moral dan mempraktikkan apa yang ia khotbahkan. Hartanya disumbangkan kepada yang membutuhkan. Orang-orang dari segala penjuru dunia mengikuti ajaran-ajarannya tentang kesederhanaan dan kebajikan.

Keberhasilan Tolstoy sebagai pemimpin spiritual amat dipengaruhi oleh reputasinya sebagai salah seorang penulis terbesar dunia. Novel-novel dan cerpen-cerpennya amat kuat dan bercorak realistis, serta tokoh-tokoh rekaannya tak terlupakan.

image

TIGA PERTAPA terdiri dari tiga buah cerpen yang ditulis oleh pria berdarah bangsawan ini, yaitu: Berapa Banyak Tanah yang Diperlukan Orang?, Tiga Pertapa, dan Pengasingan yang Panjang.

Cerpen pertama, Berapa Banyak Tanah yang Diperlukan Orang? bercerita tentang seorang petani yang tak pernah puas dalam hidupnya. Ia berpindah dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya demi meningkatkan derajat hidupnya. Jika ada tanah yang menjanjikan lebih, ia akan pindah ke tempat itu. Ending sekaligus inti pesan yang ingin disampaikan Tolstoy kepada pembacanya sangat menawan.

Cerpen kedua, Tiga Pertapa–sekaligus dijadikan sebagai judul kumpulan cerpen ini–cukup dikenal. Bahkan beberapa tahun silam sempat ‘hangat’ ketika salah satu cerpen pemenang di salah satu media cetak ternama diisukan memplagiat cerpen ini. Tiga Pertapa bercerita tentang tiga orang pertapa tua yang hidup di sebuah pulau.

Suatu hari seorang uskup mengunjungi mereka dan bertanya, “Bagaimana cara kalian melayani Tuhan di Pulau ini?”

Salah satu pertapa menjawab bahwa mereka tidak tahu bagaimana cara melayani Tuhan.

Lalu sang uskup bertanya lagi, “Lalu bagaimana cara kalian berdoa kepada Tuhan?

Pertapa menjawab, “Kami berdoa seperti ini: ‘Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Begitulah, hingga sang uskup bersikeras mengajarkan tiga pertapa itu bagaimana cara berdoa yang benar sesuai cara berdoa yang diajarkan oleh kitab mereka. Sang Uskup menyuruh tiga pertapa untuk mengulang-ulang perkataannya sampai mereka bertiga menghapalkannya.

Tiga pertapa lalu berhasil menghapalkan doa yang diajarkan oleh uskup.

Lalu apakah yang menyebabkan Sang Uskup terperangah dan mengerti makna dari berdoa yang sebenarnya?

Cerpen terakhir, Pengasingan yang Panjang–dalam kumpulan lain berjudul Tuhan Tahu, tapi Menunggu–bercerita tentang saudagar muda yang dihukum atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan. Ia menghabiskan nyaris separuh hidupnya di penjara, meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sikap sang saudagar-lah yang membuat cerita ini begitu religius, sangat menyentuh, dan tak disangka-sangka. Hal apa kira-kira yang diperbuat ‘sang terpidana’ ini semasa menjalani hukuman di penjara? Berhasilkah ia mendapatkan keadilan yang dulu ia sangat dambakan?

Sederhana dan menyentuh. Itulah yang saya tangkap setelah membaca karya-karya Tolstoy dalam buku ini. Tolstoy tidak menggunakan bahasa berbunga-bunga untuk menyampaikan kisah tokoh-tokohnya. Banyak pesan yang sama sekali tidak menggurui.

Terlihat jelas bagaimana pengalaman religius Tolstoy dituangkan dalam cerita-ceritanya. Tolstoy menghadirkan Tuhan melalui cerpen-cerpennya. Bagaimana keadilan versi manusia dan versi Tuhan hadir melalui tokoh Aksionov yang dikurung dipenjara. Atau kekuatan doa hadir melalui interaksi Uskup dan Tiga Pertapa. Atau pesan kehidupan melalui petani yang tamak. Ketiga cerpen dalam buku ini juara! 😀

Karya-karya Tolstoy lebih banyak bercorak realis dan bernuansa religius. Sarat dengan perenungan moral dan filsafat.
———————————–
Judul buku: Tiga Pertapa | Penulis: Leo Tolstoy | Penerjemah: Anton Kurnia | Editor: M. Ni’mal Fata | Penerbit: Nuansa | Tahun terbit: 2004 | Jumlah halaman: 96 halaman | ISBN: 979-9481-60-0

Rating:

image

[Review Buku] Sarelgaz : Dari Band Folk Metal sampai Game Kingdom Rush

@dhilayaumil9421

Sarelgaz dan cerita-cerita lainnya terdiri dari 17 cerpen yang ditulis Sungging Raga dalam kurun waktu 5 tahun. Beberapa di antaranya pernah dimuat di media dan mengalami perombakan, beberapa lainnya adalah cerpen yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, Hal menarik dalam cerpen-cerpen yang Raga tulis adalah proses kreatif cerpen-cerpen tersebut. Beberapa cerita lahir dari hal-hal sederhana yang didengar dan dilihat atau ditonton oleh penulisnya. Beberapa tokoh lahir dari lagu yang didengar, pengetahuan tentang suatu tempat di belahan bumi lain, bahkan dari band-band metal.

Cerpen berjudul ‘Alesia’ dan ‘Isara’, misalnya, adalah dua judul cerpen yang diambil dari dua judul lagu berjudul sama dari band folk metal asal Celtic bernama Eluveitie. Alesia bercerita tentang seorang gadis kecil yang berbincang dengan malaikat yang akan menemui ibunya yang sedang sakit keras. Inti dari cerpen ini sebenarnya adalah kekuatan doa. Cerpen ini pernah dimuat di Kompas tahun 2013, menjadi salah satu cerpen dalam antologi cerpen Kompas, dan sempat dibuatkan film pendeknya. Sedangkan cerpen Isara bercerita tentang seorang lelaki yang melakukan semacam ‘wisata kehilangan’ di kota Yogyakarta, mengingat kembali sosok gadis bernama Isara yang menjadi bagian dari masa lalu yang ia tinggalkan empat tahun lalu. Ending cerpen ini ditutup dengan kalimat, ‘Setelah bertahun-tahun berlalu, kukira stasiun ini tidak bisa lebih sedih lagi’. Nah, tebak sendiri ceritanya seperti apa. :p

Cerpen Sepertiga Malam Terakhir ditulis Raga setelah melihat kover album Scary Kids Scaring Kids. Pada kover tersebut tampak gambar seorang lelaki dan perempuan yang berpegangan tangan melihat kota yang terbakar. Sedangkan cerpennya bercerita tentang sebuah keluarga korban penggusuran yang pergi meninggalkan rumah mereka sebelum anak-anak mereka menyaksikan alat-alat berat meratakan rumah kecil mereka. Hubungan cerpen ini dengan gambar dalam kover album tersebut terletak di ending cerita. Lagi-lagi kekuatan doa yang menjadi inti cerita dalam cerpen ini.

Cerpen berjudul Nehalenia adalah salah satu cerpen yang unik menurut saya. Bercerita dari sudut pandang lelaki bernama Chiodos yang bertemu dengan hantu perempuan bernama Nehalenia yang mengaku adalah kekasih Chiodos dari dunia hantu. Saat membaca cerpen ini saya teringat salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Murjangkung karya AS. Laksana. Nehalenia sendiri adalah nama salah satu Dewi yang dipuja—di entah mitologi apa. Raga mengakhiri cerpen ini dengan menghadirkan ‘masalah baru’. Dia menyebutnya dengan teknik novel Goosebumps. Penasaran? Silakan baca cerpennya.

Sarelgaz—yang juga dijadikan judul untuk kumpulan cerpen ini—bercerita tentang seorang pemuda bernama Sarelgaz yang terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa selama tujuh tahun. Awalnya Sarelgaz berniat menyepi untuk mendapat ilmu silat dan kesaktian demi cintanya pada Cartesia, tapi justru bertemu seekor ratu laba-laba yang juga telah menunggu siapapun yang datang ke gunung tersebut untuk menjadi mangsanya. Lalu mengapa setelah tujuh tahun berlalu, sang Ratu Laba-Laba belum juga memangsa Sarelgaz? Nama Sarelgaz sendiri diambil dari nama salah satu ‘raja’ dalam game Kingdom Rush.

Cerpen Sebuah Patung Menangis bercerita tentang mitos patung menangis yang terkenal di daerah Woolwich. Mitos yang kemudian dipercayai oleh beberapa muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Jika sepasang kekasih masuk dan mendengar suara tangisan di dekat patung tersebut, maka dipercaya bahwa hubungan mereka tak akan bertahan lama. Sebaliknya, jika tak terdengar suara tangisan, maka hubungan mereka akan berlangsung lama. Sampai suatu ketika sepasang kekasih yang buta masuk lalu keluar dengan wajah murung dan bergumam, “Kami mendengar patung itu tertawa.”, semua pengunjung yang hadir tampak bingung dan bertanya-tanya. Hal menarik lainnya dari cerpen ini adalah proses kreatifnya yang berhubungan dengan kecintaan penulis dengan klub sepakbola Arsenal.

Dongeng Balas Dendam salah satu yang menjadi favorit saya. Inti dari cerpen ini adalah sebuah kesalahan masa lalu yang masih dipertahankan penerusnya sampai sekarang. Mirip-mirip yang terjadi di negara kita, kayaknya. :p

Selain judul-judul cerpen yang saya sebutkan di atas, ada beberapa cerpen lagi yang menarik, seperti Bidadari Serayu, Surat dari Janelle, Kutukan Kurir Kematian, Pesugihan Zombie (yang mengingatkan saya pada game Plants vs Zombie), Laut Kesedihan, dll.

Seperti yang saya kemukakan pada pembuka di atas, banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca kumpulan cerpen ini. Apalagi setelah mengetahui proses kreatif cerpen-cerpen tersebut. Nama-nama unik yang diambil dari nama band metal seperti Eluveitie, Chiodos, Ensiferum, Wintersun, Korpiklaani. Atau cerita yang hadir setelah mendengar lagu-lagu atau video dari band metal tersebut, membaca novel detektif, sampai cerita yang terinspirasi dari sebuah game. Hal-hal yang melekat dalam diri penulis pun tampak pada cerpen-cerpennya: Arsenal, stasiun, dan kisah cinta dramatis ala novel.

Meskipun di awal-awal saya sempat nyaris bosan, tapi semakin menjelang halaman terakhir saya seperti ketagihan membaca tulisan-tulisan Raga. Cerpen-cerpennya dibumbui beberapa humor dan pesan-pesan kecil. Bahkan beberapa cerpen yang sudah saya baca sebelumnya—di http://www.surgakata.wordpress.com— masih menarik untuk dibaca ulang.

Membaca cerita-cerita Raga seperti membaca cerita fantasi. Nama tokoh dan latar tempatnya mengingatkan pada dongeng-dongeng dari negeri lain. Selain surealis, cerpen-cerpen Raga juga mengandung sindiran akan hal-hal yang dianggap sederhana oleh orang lain yang pada kenyataannya ternyata tidak sesederhana itu. Bagaimana sebuah cerita dan mitos di suatu tempat/daerah dapat memengaruhi keberlangsungan makhluk hidup di sekitarnya. Raga membuktikan bahwa sastra tidak melulu berhubungan dengan sesuatu yang sulit dipahami dan surealis tak serumit yang dibayangkan.

Judul   : Sarelgaz dan Cerita-Cerita Lainnya

Penulis : Sungging Raga

Editor    : Irwang Bajang

Penerbit : Indie Book Corner

Tahun    : 2014

Jmlh hal. : 144 halaman

ISBN        : 978-602-3090-06-8

 @dhilayaumil

[Review Buku] Balada Ching-Ching : Tentang Balada Penuh Makna

Jika kamu pembaca situs http://www.fiksilotus.com, pasti tidak asing dengan nama Maggie Tiojakin. Dialah yang menerjemahkan cerpen-cerpen klasik karya penulis dunia melalui situs gratis fiksilotus, dengan tujuan menyajikan lebih banyak lagi cerpen asing dalam bahasa Indonesia. Selain menerjemahkan, Maggie juga menulis cerpen, baik itu berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing yang diterbitkan di media-media nasional dan mancanegara seperti Asian News Network, The Boston Globe, Other Voices, La Petite Zine, The Jakarta Post, Kompas, dan beberapa media lainnya. Maggie juga menulis artikel dan novel.

Saat pertama kali membaca cerpen-cerpen fiksilotus, saya mengira kalau Maggie Tiojakin adalah seorang lelaki berkebangsaan asing yang sudah lama tinggal di Indonesia. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Hahaha. Kemampuannya menerjemahkan cerpen-cerpen di fiksilotus banyak dipuji. Cerpen-cerpen yang ia terjemahkan sangat bagus, bahkan untuk sebagian orang, terjemahannya tidak meninggalkan ‘jiwa’ dan ‘cita rasa’ karya aslinya. Bukan hanya itu, ia juga tak jarang mengulas sebuah karya untuk didiskusikan bersama dengan para pembaca.

Balada Ching-Ching adalah karya Maggie yang kali pertama saya baca. Sebelumnya saya hanyalah penikmat hasil terjemahannya di fiksilotus. Buku ini memuat 13 cerpen yang beberapa di antaranya pernah terbit di beberapa media. Sebagian besar bahkan lebih dulu terbit dalam bahasa asing sebelum diterjemahkan olehnya. Secara umum, Balada Ching-Ching bercerita tentang pengalaman hidup. Ada yang sedih, ada yang senang, ada yang obsesif, dan lainnya. Seperti judulnya—Balada Ching-Ching: dan balada lainnya—buku ini menyajikan balada kehidupan sehari-hari.

image

Buku ini diawali dengan cerpen Anatomi Mukjizat. Bercerita tentang Malik, seorang pekerja medis di sebuah rumah sakit dan Suci, seorang pasien penderita kerusakan jantung kronis. Malik yang sering melihat mukjizat terjadi pada pasien-pasien yang ia jaga, juga berharap mukjizat datang untuk Suci: sebuah jantung baru.

Takdir, sama seperti muntahan lahar dari mulut gunung dan gulungan air laut yang membanjiri bumi, tidak membedakan korban-korbannya.”  (hal. 8)

Liana, Liana adalah salah satu cerpen favorit saya. Bercerita tentang Liana yang sedang menunggu ibunya yang–tidak seperti biasa–terlambat pulang ke rumah. Saking khawatirnya, berbagai pikiran mulai berputar di kepalanya. Beberapa skenario buruk pun terangkai tentang alasan keterlambatan ibunya. Belum lagi kekhawatirannya semakin besar saat ia melihat headline sebuah surat kabar tentang kecelakaan lalu lintas di alan tol yang menewaskan seorang wanita. Cerpen ini memberikan pemahaman tentang bagaimana kekuatan sebuah pikiran. Bagaimana pikiran buruk bisa membuat sesuatu yang tadinya baik-baik saja, jadi terlihat tidak baik-baik saja.

Balada Ching-Ching yang juga dijadikan judul buku ini, bercerita tentang seorang gadis keturunan bernama Ching-Ching. Menjadi etnis minoritas di sekolah membuat ia sering dijadikan bulan-bulanan oleh teman-temannya. Belum lagi sikap ayahnya—yang seorang pedagang kwetiau pinggir jalan—yang keras dan menganggap Ching-Ching tak bisa melakukan apa-apa membuat gadis 15 tahun itu tertekan. Balada kehidupan gadis remaja itulah yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen ini.

Cerpen terpanjang—mengambil 52 halaman—dalam buku ini, Dua Sisi, mengisahkan tokoh bernama Andari—pemuda Indonesia yang sedang bekerja di New York—yang menyaksikan sendiri bagaimana runtuhnya menara kembar WTC. Kejadian tersebut mempertemukannya dengan Aysha, seorang gadis Beirut—Libanon, yang saat pertemuan pertama mereka melontarkan kalimat yang membuat Andari bergidik ngeri. ‘Sudah saatnya negeri ini mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya terhadap orang lain’. Andari yang membenci kekerasan dengan alasan apapun bertemu dengan gadis pemilik banyak luka akibat masa lalunya yang menyedihkan di Beirut.

image

Sesuai judulnya, cerpen ini mencoba memberitahukan kepada pembaca bagaimana melihat sebuah peristiwa dari kacamata yang berbeda. Dua sisi: Andari dan Aysha. Hebatnya lagi adalah sikap penulis yang sama sekali tidak menggiring pembaca untuk memihak salah satu sisi. Melalui bahasa dan penyampaian yang mengalir membuat kisah ini terkesan nyata. Akhir yang mengejutkan juga menjadikan cerpen ini semakin menarik.

“Semua orang menanti dengan mata nanar di depan televisi, menunggu pemimpin mereka mengucapkan apa yang ingin mereka dengar: balas dendam.” (halaman 55)

Cerpen lain berjudul Suami-Istri berkisah tentang sepasang suami istri yang sudah hidup berumah tangga selama 32 tahun. Saat ulang tahun sang istri yang ke-56, suami menghadiahi makan malam mewah dan seuntai kalung emas. Kehidupan mereka baik-baik saja meskipun selama 32 tahun hidup bersama belum juga dikaruniai seorang keturunan. Segala cara sudah mereka lakukan. Tak ada masalah pada diri mereka, hanya saja mungkin Yang Mahakuasa punya rencana berbeda untuk mereka—setidaknya itu yang dikatakan setiap dokter yang mereka datangi. Ada beberapa wanita—yang tak diketahui sang istri—yang menjadi selingan sang suami di tempat tidur. Karena itu, sang suami juga penasaran apakah ada lelaki lain di kehidupan sang istri selain dirinya.

Membaca cerpen-cerpen Maggie mengingatkan saya pada pernyataannya saat diwawancarai sebuah situs online beberapa tahun lalu: cerita yang baik adalah cerita yang sifatnya tidak kenal geografi dan tidak kenal waktu. Secara umum, cerpen-cerpen dalam buku ini mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan kita dari berbagai sudut pandang. Dikemas dengan bahasa yang sederhana dan sangat mudah dipahami—tidak berbelit dan tidak berbunga-bunga, hal itulah yang menjadi kekuatan dari cerpen-cerpennya.

Masing-masing cerita dalam buku ini merupakan sebuah bingkai yang memberitahu tentang apa artinya menjadi manusia biasa: yang sedih, senang, gamang, hidup, mati, gila, waras, dikhianati, dipercayai. Karakter-karakternya pun sangat kuat dan terlihat dewasa karena kejadian-kejadian yang mereka alami.

Sangat menyenangkan membaca cerpen-cerpen dalam buku ini. Maggie menghadirkan cerita yang sederhana dengan makna yang dalam pada setiap karyanya. Duncan Graham dari The Jakarta Post bahkan menyebutnya sebagai penulis global. Untuk yang haus akan karya-karya berkualitas, buku ini layak dibaca.
*
Judul : Balada Ching-Ching (dan balada lainnya)
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Juni 2010
Jumlah Halaman : 175 halaman
ISBN : 978-979-22-5828-8
**

Makassar, 7 Januari 2015
@dhilayaumil