[Resensi Buku] DÉESSERT : Tentang Mimpi dan Kisah yang Belum Selesai

Tidak perlu memandang fisik, laki-laki tetap saja laki-laki. Isi kepala dan logika mereka sama saja. Ujung-ujungnya mereka tetap bisa memutuskan pergi tanpa merasa harus repot memberikan penjelasan.”

2016-10-03-05-09-56-1

Kinara Gayatri Adiharja—atau Naya—seorang presenter acara kuliner di salah satu stasiun televisi terkenal memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan memilih meninggalkan Ibukota kemudian kembali ke kota kelahirannya, Palembang. Di tempatnya menghabiskan masa kecil dan remajanya itulah Naya bersama sahabatnya, Lulu, mulai membangun kembali apa yang pernah mereka impikan: merintis sebuah usaha kuliner. Kafe yang kemudian diberi nama ‘Dapoer Ketje’ itu didirikan Naya dan Lulu dibantu Arfan, seorang chef profesional yang juga tunangan Lulu. Perlahan tapi pasti, Naya mulai menapaki mimpi-mimpinya.

Pulang ke Palembang tak hanya menjadi pilihan untuk mimpi-mimpi Naya, tapi juga kenangannya akan cinta pertama sepuluh tahun lalu—saat ia masih duduk di bangku SMA. Sadewa Banyu Sastrawirya, lelaki ‘sangat biasa’ tetapi sangat disayangi oleh Naya dengan begitu luar biasa. Dulu. Perempuan dengan mata indah itu harus menahan dirinya, sebab hampir semua sudut kota ini mengingatkannya akan Dewa, sosok yang selama enam tahun belakangan ia ingin lupakan.

Seakan tak didukung oleh semesta, proyek Dapoer Ketje mempertemukn kembali Naya dengan Dewa—yang kini penampilannya nyaris berubah total. Tak ada lagi Dewa, siswa nerd yang kerjanya hanya nongkrong di perpustakaan. Tak ada lagi Dewa yang kurus seperti orang-orangan sawah. Dewa kini menjelma menjadi sosok lelaki gagah, seorang chef pastry keluaran restoran bergengsi dari Australia. Meski bagi Naya, Dewa tetaplah sosok yang sama seperti yang ia kenal dulu. Datar dan irit bicara.

Pertemuan mereka tak memberi kesan yang baik. Naya terus bersikap ketus, sedangkan Dewa tak pernah menunjukkan emosi apa-apa. Ada masalah yang tak pernah selesai di antara mereka sejak tujuh tahun lalu. Ada luka di sana yang ternyata tak pernah kering. Luka yang diperparah oleh hadirnya Ava dan kisah Naya dengan mantan-mantannya.

Keduanya sama-sama keras kepala … meski mungkin diam-diam saling merindukan. Continue reading

Advertisements

[Catatan Buku] Aku dan Buku : Tentang Mimpi yang Semakin Menyala

Bahagia itu sederhana.

Berada di tengah-tengah tumpukan buku dan orang yang mencintai buku, misalnya.

PhotoGrid_1453989837694

Perkenalan saya dengan buku dimulai saat berumur kurang lebih tiga tahun. Waktu itu Ibu dan Ayah mulai mengenalkan buku-buku dongeng dan kisah nabi dan rasul untuk saya dan kakak yang umurnya terpaut satu tahun dengan saya. Karena saat itu saya belum lancar membaca, maka saya lebih suka dibacakan atau menikmati gambar-gambar dalam buku.

Salah satu buku favorit ketika saya masih kecil adalah Seri Lumba-Lumba Kecil yang terdiri dari empat buku. Gambar-gambar di dalamnya penuh warna dan menarik minat jiwa kanak-kanak saya. Buku bergambar lumba-lumba warna-warni di tiap sampulnya itulah yang begitu membekas di benak saya hingga kini. Saya mungkin lupa ekspresi saat membaca buku itu, tapi saya tidak lupa bagaimana kebahagiaan itu bertahan sampai sekarang.

Tentang Lumba-Lumba Warna-Warni dan Kebahagiaan Masa Kecil pernah saya tulis di sini.

Beranjak remaja, buku-buku yang saya baca mulai sedikit bertambah. Dari yang dulunya hanya membaca dongeng, kisah nabi dan rasul, serial detektif dan komik, saya mulai membaca buku-buku seperti Harry Potter, novel remaja berlabel ‘teenlit’, buku-buku detektif seperti Dan Brown dan Sherlock Holmes, buku-buku angkatan Balai Pustaka, buku-buku ‘dewasa’ seperti Mira W. dan Agnes Jessica, serta novel-novel pop lokal dan terjemahan. Saat itu saya sangat haus bacaan, segala koleksi buku di perpustakaan saya lahap. Apalagi dulu uang jajan saya tidak cukup untuk membeli buku—tidak sebanding dengan nafsu membaca dan waktu luang yang cukup banyak.

Memasuki bangku kuliah, nafsu membaca saya semakin meningkat. Sayangnya koleksi di perpustakaan kampus saya sangaaat kurang referensi buku fiksi. Untungnya di dekat kampus saya ada penyewaan komik dan novel. Akhirnya saya mendaftar anggota dan tiap tiga hari sekali saya ke tempat tersebut untuk mengembalikan dan meminjam buku. Alhamdulillah saat awal-awal kuliah saya sudah bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku. Continue reading

[Resensi Buku] The Way We Were : Tokoh-tokoh yang Terlalu Cepat Jatuh Cinta

PhotoGrid_1456765345137

Karena tidak peduli seberapa kerasnya kamu berusaha, kalau memang sudah waktunya seseorang untuk terluka, dia akan terluka.”

Laut Senja, gadis berusia delapan belas tahun, bertemu dengan Oka Satria Adhiyaksa secara tidak sengaja di atas bus. Pertemuan yang mengantarkan mereka pada hubungan pertemanan yang aneh. Laut yang memilih Bandung untuk ‘kabur’ dari masalah keluarganya di Jakarta merasakan kenyamanan saat bersama Oka yang dewasa dan humoris. Hubungan itu terus berjalan bahkan sampai salah satu di antara mereka jatuh cinta pada satu lainnya dan satu lainnya justru suka pada sahabatnya.

Laut bersama masalah keluarganya yang cukup rumit seringkali memendam sakit sendirian. Dia tak membiarkan Oka, Kei, bahkan Alin—sahabatnya sejak dulu—untuk ikut merasakan lukanya. Sementara Oka menyimpan kisah masa lalu yang membuatnya menjadi impulsif—seperti yang selalu dikatakan Kei.

Siapakah yang pada akhirnya dipilih dan memilih?

*

Awalnya saya menemukan buku ini di antara tumpukan buku di kamar sepupu saya. Saat saya ke rumahnya untuk satu tujuan, saya lupa membawa ponsel dan juga buku—karena awalnya saya pikir saya hanya sebentar. Nyatanya saya harus tinggal beberapa jam. Sambil menunggu, tak apa rasanya membaca untuk membunuh waktu. Daripada bosan?

Pada bab-bab awal saya disuguhi dengan perkenalan tokoh-tokohnya. Ada Laut Senja, gadis yang baru saja lulus kuliah dan memilih Bandung untuk tujuan pendidikan selanjutnya—sekaligus ‘lari’ dari masalah yang menimpa keluarganya. Lalu ada Oka, seorang freelancer arsitek yang rela mengorbankan dirinya dipukul pencopet demi menyelamatkan dompet seorang gadis. Kemudian ada Kei, sahabat Oka yang baik dan setia kawan—serta Alin, sahabat Laut yang heboh dan yang kecepatan move on dan jatuh cinta-nya berbanding lurus.

PhotoGrid_1456765559543

Sayangnya, penulis terkesan teledor atau terburu-buru dalam menciptakan tokoh beserta karakternya. Selain tokoh-tokoh yang tampaknya ‘terlalu mudah’ untuk jatuh cinta, karakter-karakternya ‘lemah’ dan ‘tidak hidup’. Saya tak bisa merasakan emosi para tokoh bahkan sampai halaman terakhir saya tak benar-benar mengenal karakter dalam novel ini. Sepertinya penulis mencoba menciptakan tokoh sempurna dengan kekurangan-kekurangan yang dimiliki, tapi yang tampak justru karakter-karakter baik dengan kekurangan yang seperti tempelan. Laut yang digambarkan kuat dan tegar, tetapi tak jelas arah dan mimpinya, Oka yang menjadi pemeran utama tapi ‘pesonanya’ dikalahkan oleh Kei, dan karakter-karakter pendukung yang tidak membaur dengan cerita. Selain Laut dan Alin—karena mereka seumuran, karakter Oka dan Kei tak jelas umur dan latar belakangnya. Sekali lagi, saya merasa penulis sangat terburu-buru dalam menulis novel ini.

Konflik yang kentang—kena tanggung—pun makin membuat saya agak berat menyelesaikan buku ini. Tak jelas penulis ingin membawa konflik apa dalam buku ini. Saya tak merasakan emosi tokoh-tokohnya, padahal banyak kisah rumit dan sedih di dalamnya. Konflik yang diusung penulis—masalah keluarga dan kisah cinta—pun berakhir dengan maksa abis. Bahkan tak ada penyelesaian dari tokoh. Kisah ini diakhiri sendiri oleh penulisnya.

PhotoGrid_1456765634054

Novel 257 halaman ini ditolong oleh beberapa ilustrasi karya Wening Insani. Butuh waktu kurang lebih tiga jam untuk menyelesaikan novel ini. Maafkan saya karena pada beberapa bagian bahkan saya skip untuk dibaca karena tidak terlalu penting menurut saya, yaitu pada halaman 168-175. Bagian saat Oka mengajari Laut tentang mikroekonomi.

Pada akhirnya, kamu tidak akan tahu sebuah buku itu baik atau kurang baik, layak atau kurang layak, cocok sebagai bacaan hiburan atau bagusnya dikritik habis-habisan … sebelum kamu membacanya sendiri. ^^

*

Identitas buku

Judul buku : The Way We Were: kita dulu dan sekarang

Penulis : Sky Nakayama

Ilustrasi : Wening Insani

Penyunting : Mita M. Supardi

Proofreader: Patresia Kirnandita

Penata Letak: Landi A. Handwiko

Desain Sampul: Cecillia Hidayat

Penerbit : GagasMedia

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 257 halaman

ISBN : 9797805367

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379734148-1.jpg