[Resensi Buku] The Three Musketeers : Sejarah Prancis dan Tokoh-tokoh Heroik

image

Gambar dari Ang

Judul : The Three Musketeers
Penulis : Alexandre Dumas
Penerbit: Serambi
Jumlah halaman: 537 halaman

Resensi berikut saya tulis berdasarkan Diskusi Buku Bulanan di Grup WA Klub Buku Indonesia yang dimoderatori oleh Ipeh Alena. Diskusi yang dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2015 ini mencakup beberapa poin, antara lain:

1. Deskripsi: Deskripsi Musketri, Karakter, dan Detail Setting.

2. Perbedaan dan Persamaan: Perbedaan antar Tokoh Three Musketeers, Persamaan di antara Three Musketeers dan D’artagnan.

3. Kronologi Cerita: Tahap-tahap terjadinya duel antara d’Artagnan dengan Three Musketeers, proses yang mengawali hingga mengakhiri kisah intrik yang mengikutsertakan Constance Bonacieuxs.

4. Masalah dan Solusi yang disajikan pada cerita ini.

5. Sebab-Akibat: Dalam novel The Three Musketeers banyak sekali hubungan sebab akibat yang ada.

                            *

D’Artagnan berasal dari keluarga yang berbudi luhur dan ingin mengabdikan diri pada rajanya. Karena itulah dia meninggalkan rumah dan keluarganya ke Paris untuk bergabung dengan pasukan Musketri. 

Dalam perjalanan, dia terlibat percekcokan dengan seorang lelaki misterius. Di luar dugaan, surat pengantar dari bapaknya yang harus dia berikan untuk mempermudah dia bergabung dengan Musketri raib seiring dengan hilangnya lelaki misterius itu.

Cobaan belum berhenti di situ. Tidak berapa lama setelah menginjakkan kaki di Paris, dia langsung terlibat masalah dengan tiga orang lelaki. Entah sudah kehilangan akal sehatnya atau memang benar-benar pemberani, dia menyetujui untuk berduel dengan ketiganya dalam waktu hampir bersamaan.

Namun, pertarungan yang baru akan dimulai akhirnya batal. D’Artagnan justru berteman dengan tiga orang Musketri tersebut. Mereka adalah Athos, Porthos, dan Aramis.

Musketri di Perancis adalah satuan pengawal Raja yang dibentuk pada tahun 1622 dibawah kepemimpinan Louis XIII. Mereka bertugas sebagai pengawal Raja ketika berada di luar Istana.

Setting atau latar atau tempat yang terjadi dalam cerita ini berpindah-pindah. Pada awal kepergian D’Artagnan dari Gascon, dia memasuki satu tempat bernama Meung. Di Meung inilah d’Artagnan untuk pertama kalinya bertemu dengan pemuda yang memiliki tanda di wajahnya juga bertemu Milady. Sesampainya di Paris, d’Artagnan pertama kali menginap di Rue des Fossoyeurs dekat Luksemburgh. Pada bagian ini, pemuda Gascon banyak mengalami tragedi. Perkenalannya dengan seorang perempuan menghantarkannya pada rangkaian peristiwa lainnya. Setelahnya setting berubah-ubah seiring misi d’Artagnan. Ada beberapa pergantian setting dari inggris ke Prancis.

Juga ada satu tempat bernama La Rochelle, daerah pinggir pantai yang masyarakatnya beragama protestan dan selalu dalam posisi bersebrangan dengan Raja yang beragama Katolik.

Ketiga Musketri tersebut dengan d’Artagnan, mereka memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Jika dilihat dari karakteristik mereka, pastinya mereka banyak memiliki perbedaan. Namun, dalam hal rasa ingin berbakti, d’Artagnan dan ketiga Musketri tersebut memiliki persamaan yaitu memilih Berbakti pada Raja ketimbang pada Kardinal. Sementara itu, bagi d’Artagnan dan Athos, keduanya terbilang sangat dekat, karena keduanya memiliki tautan melalui satu wanita yaitu Milady.

Di antara persamaan para Musketri dan d’Artagnan, ada juga persamaan keempat pria yang mengambdi pada Raja ini dengan para pelayannya. Planchet adalah pelayan d’Artagnan, seorang pelayan yang juga cepat tanggap, dia yang memberitahu ada sesuatu tak beres ketika menunggu tempat penginapan mereka saat d’Artagnan pergi. Planchet juga yang menemukan surat dari Madam Bonacieux, pelayan itu yang dengan setia bersedia tidur di luar ruangan demi menjaga majikannya. Seorang pemberani, bahkan dia pernah ditugaskan untuk mengirimkan surat penting ke Inggris. Belum lagi dalam hal kecerdasan, dia sering membantu d’Artagnan tanpa harus diperintah seakan dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh majikannya.

Sementara Athos, memiliki pelayan bernama Girmaud. Keduanya memikiki persamaan yang benar-benar lucu termasuk ketika mereka bersembunyi di gudang hotel. Saat keduanya menghabiskan persediaan Anggur, Bir, Minyak dan Bahan makanan. Grimaund jenis pelayan yang konservatif, Ia tidak akan meminum anggur dengan kualitas yang sama dengan tuannya. Ia minum dari tong, tapi sepertinya ia lupa menutup kerannya!

Kedua orang Majikan-Pelayan ini ditemui d’Artagnan dalam keadaan mabuk. Dan ini justru membuat pemilik hotel menganggap perilaku mereka adalah hukuman atas perbuatannya.

Pada akhirnya, memang hubungan antara Majikan-Pelayan tidak putus. Aramis yang cita-citanya menjadi seorang biarawan, tanpa mengajak atau memaksa Bazin, sang pelayan justru dengan keinginan sendiri ikut dibaptis dan mengabdi pada Tuhan. Sementara Porthos yang menikah dengan seorang wanita yang pernah memberikannya tali bersulam emas, tetap menjadikan Mosqueton sebagai pelayannya.

                             *

Alexandre Dumas mengemas karakter-karakter dalam karyanya dengan sangat apik. 
Misalnya Aramis yang muda, sekitar 23 tahun, dengan raut wajah polos, rendah hati, mata gelap yang teduh dan pipi halus merona merah muda seperti buah persik. Kumisnya tertata rapi, ketika ia tertawa, tawanya tak bersuara, penampilannya sangat terawat.

Karakter lain yang heroik, cerdas, brutal dan memiliki gaya khas lelaki Paris yang anggun.

Dari ulasan-ulasan yang saya baca, ternyata beberapa tokoh dalam buku ini adalah nyata. Tokoh-tokoh dan cerita yang berhubungan dengan sejarah Prancis.

D’Artagnan sendiri adalah tokoh yang terinspirasi dari semi-Fictionalized Memoir d’Artagnan yang ditulis oleh Gatien de Courtilz de Sandras bernama Charles de Batz-
Castelmore d’Artagnan (semoga enggak salah tulis :p).

Oh iya, dalam buku ini yang menjadi tokoh sentral–katanya, sih–justru d’Artagnan, bukan Tiga Musketri.

Diskusi The Three Musketeers akan dilanjutkan bulan Februari. Mari siap-siap mencari bukunya lalu ‘menyaksikan’ sendiri petualangan d’Artagnan dengan ketiga musketri! 🙂

Review ini juga diikutkan dalam Monthly Book Review Challenge KBI 2015. Buku ini adalah buku terakhir yang dijadikan diskusi bulanan di KBI lho. Itu berarti #MBRCKBI2015 juga sudah berakhir.

image

Mau ikut keseruan diskusi bulanan? Yuk, gabung ke grup WhatsApp KBI. ^^

Advertisements

[Resensi Buku] Cinta Tak Pernah Tepat Waktu : Mencintai dengan Cara yang Paling Sunyi

Aku telah mencintai seorang perempuan, dan dia meninggalkanku. Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintai perempuan itu, dan sialnya aku tidak bisa mencintai yang lain lagi.” (Hal. 15)

image

Novel ini berkisah tentang tokoh ‘Aku’–seorang lelaki, mantan aktivis ’98 yang hingga akhir cerita tak diketahui namanya–yang dalam perjalanannya melupakan dan menyembuhkan hati, justru dipertemukan kembali dengan yang dicintainya. Sayangnya, seperti judul novel ini, cinta tak pernah tepat waktu. Begitu pun untuk tokoh utama novel ini. Orang yang ia cintai tiba-tiba muncul di hadapannya. Bukannya senang, tokoh utama kita justru harus dihadapkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya sudah menjadi milik lelaki lain.

Maka, ia memilih mencintai dengan cara yang paling sunyi.

Dalam perjalanannya untuk menyembuhkan luka, Si Aku mengalami banyak kejadian yang kelak membuatnya merenung dan mengerti bahwa dalam hidup apa yang kita inginkan kadang-kadang tidak sepenting apa yang kita miliki. Bahwa luka, kadang-kadang tidak hanya memberikan rasa sakit atau perih, tapi juga pelajaran berharga dalam proses penyembuhannya.

Novel ini dibuka dengan prolog tentang betapa ‘sial’nya kehidupan tokoh Aku ini, terutama soal cinta. Selanjutnya pembaca akan dikenalkan dengan beberapa perempuan yang menjalin hubungan dengan tokoh Aku dalam rangka menyembuhkan luka hatinya. Berhasilkah ia melupakan mantan kekasihnya yang sudah menjadi istri orang lain? Bagaimanakah pergolakan pemikiran, proses pencarian cinta, dan upaya tokoh utama kita dalam menyembuhkan penyakit yang dideritanya? Silakan baca sendiri. 😀

Pada satu bagian, pembaca akan dibuat sedikit bingung dengan perubahan sudut pandang. Tokoh ‘Aku’ akan berubah menjadi ‘kamu’, entah apa alasan penulis mengubah untuk sementara sudut pandangnya. Selain perubahan sudut pandang pada satu bagian dan beberapa kesalahan pengetikan, tak ada hal lain yang mengganggu. Novel ini cukup menghibur dan berisi banyak hal untuk dinikmati.

Nah, cobalah berkenalan dengan lelaki yang masih betah berkubang dalam kenangan di novel ini.

*

Buku ini juga dijadikan sebagai bahan Diskusi Bulanan Klub Buku Indonesia di WhatsApp untuk bulan Oktober, dengan Maulana Muzirwan sebagai moderatornya.

Diskusi berlangsung seru meskipun saya lumayan telat untuk gabung. Topik yang ramai pastinya tak jauh dari ‘kenangan’, ‘mantan’, dan ‘susah move on‘. Kak Mo berfokus pada tokoh utama kita yang sedikit mempunyai ketakutan untuk menikah setelah ditinggal menikah oleh kekasih yang sangat ia cintai.

Buku yang sekitar 3 kali berpindah penerbit ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata sahabat Sang Penulis sendiri, Puthut EA, yang berinisian N.

Nah, penasaran dengan keseruan Diskusi Bulanan di Grup WA KBI? Yuk, gabung dengan 60-an member lainnya. Selain itu kalian juga berkesempatan mengikuti #MBRCKBI2015 lho. ^^

wpid-mbrc2015.jpg

* Buku ini juga bisa kalian dapatkan di toko buku online @foboekoe, @standbuku, atau @demabuku.
———————————–
Judul buku: Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Penulis: Puthut EA | Penerbit: INSISTPress | Tahun terbit: 2009 | Jumlah halaman: 213 halaman | ISBN: 978-602-8384-18-6 |

Rating:

image