[Review Buku] Kisah Muram di Restoran Cepat Saji

image

Judul buku : Kisah Muram di Restoran Cepat Saji
Penulis : Bamby Cahyadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  : 2012
Jumlah hal. : 152 halaman
ISBN : 978-979-22-9080-6

                      Tentang Kisah(-Kisah) yang Berakhir Muram
Aku melirik ibuku. Ia membalas melirikku. Ibu tersenyum hampa. Aku tahu, Ibu ingin pesawat ini jatuh. Dan kami mati. Mati bersama. Kakakku terbangun dari tidurnya yang lelap, mungkin mimpinya terganggu oleh guncangan. Ia lalu menggamit tangan ibuku. Ia juga menatapku lekat. Semoga kita mati bersama.”
–Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang–

Apa yang biasa kamu temui ketika mendatangi restoran cepat saji? Pegawai-pegawai yang cepat, cekatan, dan ramah? Menu yang masih panas dan segar? Atau kebingungan memilih makanan ketika sudah sampai di depan kasir? Atau pernah menemui kisah muram di balik segala yang disajikan di restoran cepat saji?

Kisah Muram di Restoran Cepat Saji berisi lima belas cerpen yang—menurut info yang saya dapat dari internet—disusun Bamby selama kurang lebih dua tahun. Judulnya sendiri diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Selain Kisah Muram di Restoran Cepat Saji, ada empat belas cerpen lainnya: Boneka Menangis; Bila Senja Ingin Pulang; Mimpi-Mimpi yang Mengajakku Tersesat; Malaikat yang Mencintai Senja; Pak Sobirin, Guru Mengaji; Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang; Tentang Mayat yang Sedang Tersenyum; Angka Sepuluh; Obsesi; Lelaki yang Terperangkap dalam Perangko; Parit; Sebongkah Batu Es yang Merindu; Lelaki Abu-Abu yang Membatu; Perjamuan di Akhir Cerita.

Cerpen pertama di buku ini, Boneka Menangis, bercerita tentang sepasang suami istri yang baru saja kehilangan anaknya yang beranjak remaja akibat sakit kanker. Anaknya adalah seorang pencinta boneka dan memiliki satu buah boneka yang paling dia sukai yang diberi nama Dede. Sebelum Riri—nama anak mereka—meninggal, Dede sempat rusak dan Riri memaksa untuk Dede diperbaiki. Tapi sampai Riri meninggal, Dede tak juga diperbaiki. Lalu, hal-hal aneh terkait Riri dan boneka-boneka kesayangannya mulai mengganggu suami istri tersebut.

Malaikat yang Mencintai Senja, cerpen keempat dalam buku ini. Bercerita tentang seorang malaikat bernama Tareq yang baru saja diturunkan ke bumi. Tareq sangat menyukai senja dan selama di bumi dia ingin mencari tempat tinggal di mana ia bisa leluasa melihat matahari terbenam dari tempatnya. Petualangan Tareq pun berlanjut dari satu apartemen dan gedung-gedung tinggi ke tempat-tempat tinggi dan memiliki jendela besar menghadap ke arah barat lainnya. Cerpen ini mengingatkan saya pada kota besar seperti Jakarta, yang pembangunannya ‘asal-asalan’. Satu hal dari kisah ‘fantasi’ ini adalah tentang bagaimana manusia tidak pernah puas dengan apa yang punya. Kita sibuk mengejar keindahan yang sebenarnya tak jauh-jauh dari kita, sampai lupa bahwa waktu kita hampir habis karena hal yang sia-sia tersebut.

Cerpen kelima sekaligus judul buku ini: Kisah Muram di Restoran Cepat Saji. Tentang kisah ‘muram’ tentang seorang pelayan restoran yang mengkritik dan memaki—tentu saja dalam hati—apa saja yang dilihatnya  dari balik meja kasir. Mengkritik sistem di negaranya, tapi pada akhirnya dia menjadi bagian dari sistem itu. Cerita ini sangat sederhana tapi apa yang ingin disampaikan penulis benar-benar ‘ngena’. Bamby dengan cara sesederhana mungkin menceritakan kisah ‘muram’ yang terjadi di negara ini melalui tokoh Adimas yang hanya seorang pelayan restoran.

Cerpen Angka Sepuluh bercerita tentang lelaki lajang yang kehidupannya nyaris sempurna. Dia menyukai angka 9 tapi tidak terlalu suka dengan hal klenik. Dalam cerpen ini, penulis mencoba bermain dengan angka. Ending cerita ini tidak disangka-sangka dan sangat menarik. Haha.

Cerpen lain berjudul Obsesi adalah salah satu yang saya suka. Bercerita tentang seseorang yang sejak sekolah memiliki cita-cinta ingin menjadi seorang koruptor. Cita-citanya ini justru membawa dia menuju jalan kesuksesan tanpa sedikitpun menyentuh ranah yang dia cita-citakan. Cerita ini sesungguhnya menyindir para koruptor di negeri ini. :p Tentang bagaimana sebuah kerjaan yang tak pernah diimpikan sejak kecil tetapi dilakoni ketika dewasa.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada beberapa cerpen lainnya. Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang dan Tentang Mayat yang Sedang Tersenyum adalah dua cerpen yang bersambung. Penulis membiarkan kita gampang menebak jalan cerita, tetapi tetap bisa menikmati cerita dengan cara yang beda.

Lalu ada Parit dan Perjamuan di Akhir Cerita, dua cerpen yang juga saya suka. Mimpi-Mimpi yang Mengajakku Tersesat dan Sebongkah Batu Es yang Merindu adalah dua cerpen yang bertema fantasi.

Dalam cerpen-cerpennya, penulis mengangkat sebagian besar isu sosial di masyarakat. Agak satire dengan gaya bahasa yang santai, mengalir. Kadang tak terasa kita sudah digiring ke akhir cerita.

Beberapa cerpen gampang ditebak akhirnya, tapi penulis membuatnya menarik dengan bahasa sederhana dan penampilan yang beda. Jalan cerita yang unik dan mengandung sindiran-sindiran bagi kehidupan sosial.

Kekurangan dalam buku ini menurut saya, ada beberapa cerpen yang tidak terlalu menarik di tema dan terlalu datar.

Tapi secara keseluruhan, saya suka kumpulan cerpen ini. Saya memberi 3 dari 5 bintang. 🙂

-dhilayaumil-