[Resensi Buku] The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde : Dua Sisi Manusia

“Aku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku.”

picsart_01-09-12-20-22

Dalam usaha mencari jati dirinya, Dr. Henry Jekyll yang cemerlang justru menemukan monster. Dia berhasil memisahkan sisi baik dan sisi buruk dirinya. Namun, ketika sisi buruk itu mulai menguasainya, Dr. Jekyll menyadari bahwa dia tak mungkin terus menjalani kehidupan gandanya.

Kisah klasik yang mendebarkan ini merupakan kajian tentang dualitas sifat manusia, dan melalui karyanya ini, Robert Louis Stevenson kian memantapkan reputasinya sebagai pengarang.

* Continue reading

[Resensi Buku] The Girl on The Train : Kisah Muram Tiga Perempuan

Dua kali sehari aku disodori tawaran untuk melihat kehidupan orang lain, walau sekejap saja. Ada sesuatu yang melegakan ketika melihat orang-orang asing berada di rumah dengan aman.” (Halaman 2)

index

Gambar : Google

Buku yang terbit tahun 2015 ini menggunakan sudut pandang orang pertama dengan tiga pencerita: Rachel, seorang alkoholik, dipecat dari pekerjaannya, ditinggalkan oleh suami yang selingkuh, tidak stabil, dan seringkali mengalami memory blackout saat sedang mabuk. Megan, seorang istri dari lelaki yang posesif, mempunyai kecemasan yang tinggi dan susah tidur, serta memiliki rahasia masa lalu yang kelam. Anna, selingkuhan Tom—mantan suami Rachel—dan akhirnya menikah dengan Tom, memiliki seorang anak bernama Evie, merasa kehidupan keluarganya baik-baik saja jika saja mantan istri suaminya tidak pernah mengganggu mereka. Ketiga perempuan ini terhubung oleh satu peristiwa mengerikan.

Rachel merahasiakan tentang pekerjaannya kepada Cathy, teman yang bersedia ‘menampungnya’ di rumahnya. Maka dari itu, setiap hari ia harus ‘berpura-pura bekerja’, menaiki kereta komuter dari Ashbury menuju London dan sebaliknya agar Cathy tak curiga. Di komuter itulah ia sering memikirkan dan membayangkan banyak hal. Ia ‘memberikan cerita’ pada apa pun yang ia lihat. Gaun dan pita di sudut rel, rumah-rumah yang ia lihat, dan memberikan nama pada orang-orang. Di komuter itu pula Rachel memberi nama Jess dan Jason pada sepasang suami istri yang terlihat bahagia yang tinggal di pinggir perlintasan rel kereta. Pasangan suami istri yang tinggal di rumah nomor 15, hanya berjarak beberapa rumah dengan rumah nomor 23—rumah yang dulu ia tinggali bersama suaminya. Sebelum perempuan itu merusak segalanya.

“Tidak ada yang lebih menyakitkan, yang lebih merusak, daripada kecurigaan.” (Halaman 351)

Keterlibatan ketiga perempuan tersebut dimulai saat berita hilangnya Megan Hipwell diumumkan. Rachel yang merasa sehari sebelum menghilangnya istri dari Scott Hipwell itu melihat sesuatu yang berhubungan dengan hilangnya Megan kemudian melaporkan hal tersebut kepada polisi, berharap ‘kesaksiannya’ bisa membantu. Sayangnya, alih-alih dianggap membantu, Rachel dianggap mengacaukan penyelidikan. Kebiasaannya minum alkohol ditambah ia sering mengalami memory blackout saat mabuk membuat polisi menganggap ia kacau dan tidak stabil.

Akhirnya dengan berbagai cara ia membuat dirinya terlibat, termasuk dengan berbohong. Belum lagi tuduhan dari Anna yang mengatakan bahwa Rachel terlibat dalam hilangnya Megan Hipwell karena pada malam hilangnya Megan, Anna melihat Rachel berkeliaran di sekitar tempat tinggal mereka. Tentu saja Rachel tidak mengingat itu semua, sebab ia sedang dalam keadaan mabuk—ya, dia hampir tiap hari mabuk, sih.

Misteri hilangnya Megan Hipwell membuka rahasia-rahasia kelam yang disembunyikan beberapa tokoh dalam buku ini. Akankah Rachel berhasil ‘menemukan’ ingatan-ingatannya yang hilang saat Megan menghilang—juga ingatan lainnya di masa lalu? Rahasia apakah yang disembunyikan Megan? Ikuti kisah tiga perempuan yang terikat pada satu benang merah di buku ini.

*

 “Satu berarti peneritaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan. Tiga berarti bocah perempuan. Aku tertahan pada tiga, aku tidak bisa melanjutkannya lagi. kepalaku dipenuhi suara, mulutku dipenuhi darah. Tiga berarti bocah perempuan. Aku bisa mendengar burung-burung magpie itu, mereka tertawa, mengejekku, terkekeh parau. Ada kabar. Kabar buruk. Kini aku bisa melihat mereka, hitam dilatari matahari. Bukan burung-burung itu, tapi sesuatu yang lain. Seseorang datang. Seseorang bicara kepadaku. Kini lihatlah. Lihatlah apa yang terpaksa kulakukan karenamu.

Continue reading

[Resensi Buku] Rumah Kertas : Takdir Buku-Buku

Tak ada orang yang mau lupa menaruh buku. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

wp-image-1112992230jpg.jpg

Bluma Lennon, seorang profesor sastra di Universitas Cambrigde, membeli satu eksemplar buku lawas ‘Poems’ karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho. Saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.

Suatu pagi, rekannya mendapati sebuah paket yang dialamatkan kepada Bluma tanpa alamat pengirim. Paket misterius dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku La línea de sombra, terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad yang pinggiran serta sampul depan-belakangnya dipenuhi dengan serpihan semen kering.

Rasa penasaran yang tinggi membawa sang rekan untuk menyelidiki–sekaligus mengembalikan buku tersebut kepada si pengirim.

*

picsart_11-10-04.57.31.jpg
Sekadar menegaskan–sekaligus mengingatkan, buku ini hanya setebal tujuh puluh enam halaman. Tapi sensasi setelah membaca buku ini sungguh jauh dari jumlah halamannya sendiri.

Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” -New York Times-

Betul.

Sejak halaman pertama, pembaca sudah akan dibawa ke dalam dunia para penulis dunia. Dibuka dengan kisah tragis Bluma yang menjadi ‘korban’ buku. Paragraf selanjutnya mulai mengajak pembaca memasuki takdir orang-orang dengan buku. Continue reading

[Resensi Buku] Strawberry Cheesecake : Manis Asam Cinta dalam Stroberi

Kamu harus terus belajar kalau tidak mau tertinggal. Betapa pun berbakatnya kamu, orang-orang yang belajar akan mengalahkan kamu, dan orang yang belajar paling banyak yang akan jadi pemenangnya.”

img_20161014_2036111Alana adalah seorang selebritis yang ‘terjebak’ dalam acara memasak di tv. Ia menyadari bakatnya adalah dunia entertainer, bukan di dapur. Tetapi demi Aidan, yang menyukai perempuan yang bisa memasak, ia akhirnya menerima tantangan dalam acara masak tersebut. ‘Toh, aku bisa belajar masak dari youtube,’ pikir Alana.

Tempat diadakannya tantangan dalam acara masak tersebut adalah sebuah deli yang terletak di daerah Bandung yang bernama Strawberry Garden Deli. Saat kali pertama menginjakkan kaki di tempat itu, di depan kamera tv yang sedang menyala, Alana menangkap sosok pengunjung yang ingin kabur tanpa membayar makanan terlebih dahulu.

Insiden tersebut mempertemukannya dengan Regan—si pelaku yang ia tangkap basah—yang ternyata sudah kali kedua ia temui tetapi tak ingat di mana ia pernah bertemu lelaki itu. Di luar dugaan, Regan yang berpenampilan sangar itu ternyata memiliki bakat memasak. Sadar karena dalam dua tantangan sebelumnya di Strawberry Garden Deli dirinya selalu kalah telak, Alana berpikir untuk menjadikan Regan sebagai ‘guru memasak’nya. Sayangnya, permintaan tersebut tak semudah membeli sepatu-sepatu bermerek bagi Alana. Ia harus memohon mati-matian agar akhirnya Regan mau mengajarinya memasak, meskipun dengan syarat yang sungguh membuat Alana bingung.

Apakah syarat yang diajukan Regan? Berhasilkah Alana melewati tantangan dalam reality show memasak tersebut dan membuat Aidan terkesan? Banyak hal yang dilalui Alana selama syuting acara memasak yang lambat laun membuatnya berpikir, “Apakah memang benar ini yang kuinginkan untuk orang yang kucintai?” Continue reading