[Review Buku] Danur : Sahabat Beda Dunia

image

Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya…. Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut… hantu. Ya, mereka adalah hantu, jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukanku. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima hantu anak Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick–dua sahabat yang sering berkelahi–alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si Bungsu Jahnsen.

Jauh dari kehidupan ‘normal’ adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih, yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang….”

*

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu penulis itu sendiri, Risa Saraswati. Bercerita tentang pengalaman Risa yang sejak kecil dapat melihat hal-hal yang kasat mata dan tidak semua orang dapat merasakannya. Kita mungkin lebih akrab dengan sebutan ‘hantu’. Pengalaman sejak Risa kecil sampai dewasa itu ditulis dalam berbagai bagian dengan gaya bercerita yang sesuai dengan umur saat Risa mengalaminya. Dalam satu bagian tokoh aku adalah Risa yang memakai seragam SD, bagian lain adalah aku yang seorang remaja, bahkan saat Risa sudah memasuki usia dewasa.

Buku ini boleh bercerita tentang persahabatan tidak biasa antara manusia dan hantu-hantu. Tapi buku ini sama sekali tidak horor, mencekam, apalagi menakutkan. Sebagian besar bercerita tentang bagaimana Risa bertemu dengan hantu-hantu yang di antaranya lalu menjadi sahabat-sahabatnya–sampai sekarang, bagaimana cara hantu-hantu tersebut mati, atau hantu-hantu yang datang meminta pertolongan padanya.

Uniknya, kadang Risa memosisikan diri sebagai si hantu dengan mengubah sudut pandang berceritanya. Tak jarang pula Risa ‘curhat’ kepada pembacanya bagaimana tertekannya memiliki kemampuan seperti yang dimilikinya. Apalagi saat hantu-hantu yang mendatanginya menunjukkan wajah asli mereka, wajah mengerikan.

Yang mengejutkan adalah, ternyata beberapa kali tokoh aku melakukan percobaan bunuh diri hanya agar dapat bergabung dengan ‘teman-temannya’.

Selain cerita kelima sahabat kecilnya–Peter, Hans, Hendrick, William, dan Jahnsen–cerita lainnya yang menarik adalah cerita tiga hantu perempuan cantik berumur sekitar 19-22 tahun yang juga ‘menghuni’ rumahnya. Elizabeth, Sarah, dan Teddy. Mereka adalah hantu-hantu yang jatuh cinta dengan manusia, anak pemilik rumah–yang salah satu di antara ketiga lelaki itu adalah ayah Risa.

“Kau tahu kan apa itu danur? Itu adalah air berbau busuk yang keluar dari mayat yang mulai membusuk.” -halaman 181-

Sampai buku ini selesai saya baca, saya masih bertanya-tanya tentang satu hal. Mengapa hantu-hantu yang mendominasi cerita Risa adalah hantu-hantu Belanda? Apakah Risa lebih ‘diminati’ oleh hantu bule daripada hantu lokal? :p

Baru-baru ini Risa Saraswati menjadi salah satu partisipan dalam kegiatan Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) 2015 yang diadakan di Benteng Jumpandang (Fort Rotterdam). Dalam salah satu kesempatan lagi-lagi Mbak Risa menunjukkan ‘kemampuannya’. Selain menperkenalkan ‘teman-teman Belanda-nya’, ia juga ‘bercakap’ dengan beberapa ‘penghuni’ benteng. Hihihi.

Meskipun menurut saya buku ini bukan genre bacaan saya, tapi saya cukup terhibur dengan cerita-cerita penulis tentang teman-teman hantunya. Terlepas dari cerita itu benar-benar nyata ataukah sekadar karangan penulis. Nah, buat kalian yang mau mencoba cerita yang sedikit berbeda dan unik, silakan baca Danur.
**

Judul buku: DANUR | Penulis: Risa Saraswati | Penerbit: Bukune | Editor: Syafial Rustama | Proof Reader: Dewi Fita | Tahun terbit: 2011 (Cetakan ke-5, 2014) | Jumlah halaman: 216 halaman | ISBN: 602-220-019-9

-dhilayaumil-

[Review Buku] KAMU: Aku, Kamu, dan Hal Absurd Lainnya

Identitas Buku
Judul : KAMU (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
Penulis : Sabda Armandio
Penyunting : Dea Anugrah
Penerbit : Moka Media
Tahun Terbit : 2015 (Cetakan Pertama)
Jumlah Hlm. : viii + 348 Halaman
ISBN : 979-795-961-9

PicsArt_1432280900578[1]

Aku, Kamu, dan Hal Absurd Lainnya

Apa yang terpikirkan saat temanmu mengajak bolos sekolah hanya untuk mencari sendok yang tertukar di tukang bakso? Atau bagaimana jika kamu yang terbiasa melihat kaos bertuliskan ‘Save Earth’ atau ‘Save Orang Utan’ justru bertemu orang utan yang memakai kaos bertuliskan ‘Save Human’? Lalu bagaimana reaksimu saat pacarmu tiba-tiba meminta putus karena dia hamil dengan lelaki lain?

Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) dibuka dengan cerita tokoh utama, yaitu ‘aku’—pemuda berumur 27 tahun—yang baru saja menempati kamar kontrakan dan mengenang beberapa kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Di antaranya tentang jarinya yang kini tinggal tujuh dan orang tuanya yang meninggal dalam kebakaran beberapa tahun silam.

Cerita selanjutnya adalah ketika tokoh ‘Aku’ mengenang masa 10 tahun lalu, saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Petualangan selama tiga hari yang diceritakan ‘aku’ inilah yang akan mengajak pembaca merasakan keresahan penulis yang dituangkan dalam buku setebal 348 halaman ini.

Mengambil latar kota Bogor, cerita yang terjadi selama tiga hari ini dimulai ketika ‘Kamu’ yang merupakan teman sekolah ‘Aku’ mengajak bolos sekolah untuk membantunya mencari sendok yang tertukar juga menemani Kamu untuk mengantar titipan dari Ayah Kamu. Dalam perjalanan mengantarkan titipan itulah Aku mengalami pengalaman yang absurd. Mereka harus berhenti di tengah jalan karena Bogor sedang diserang Badai Monyet Parit. Mereka lalu melewati jalan pintas berupa gorong-gorong yang membawa ke suatu tempat dan bertemu dengan kawanan orang utan yang bisa berbicara. Di bagian ini penulis tampaknya ingin menghadirkan konsep hubungan antara manusia dan alam serta manusia dengan makhluk lainnya.

Buat apa alam diselamatkan? Lagipula diselamatkan dari siapa? Alam selalu bisa menjaga diri, ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Pohon dan rumput akan tetap tumbuh meski kita tak ada. Justru kita yang harus saling menyelamatkan, bukan?

Peristiwa aneh tersebut berlanjut saat mereka sampai di rumah Kek Su yang menjadi tujuan mereka. Kek Su digambarkan memiliki kebiasaan unik. Ia gemar melukis dan hanya memiliki satu buah mata. Ia melukis satu buah mata—yang tampak seperti mata asli—lagi untuk melengkapi kedua buah matanya.

Hari kedua tokoh Aku mendapat ajakan bolos lagi. Kali ini dari ‘Mantan Pacarku’ yang minta ditemani ke dokter kandungan. Konon kabarnya si Mantan Pacar ini hamil oleh pria lain. Saat berada di kafe dengan Si Mantan Pacar, tokoh Aku bertemu dengan seorang pesulap yang memberikan kartu nama aneh kepadanya. Seorang pesulap yang tertelan oleh topinya sendiri.

Hari ketiga, tokoh Aku lagi-lagi membolos. Kali ini ia mendapat ajakan bolos dari siapa? Nah, silakan baca sendiri bukunya. ^^

*

Novel Kamu berisi banyak hal absurd, unik, dan ganjil—alih-alih disebut surealis. Penulis, lewat beberapa tokohnya seakan menceritakan tentang keresahan-keresahannya terhadap beberapa hal. Selain tokoh Aku, Kamu, Mantan Pacar, ada juga tokoh Perempuan Teman Sekelas, Permen, Kek Su, dan Johan yang masing-masing karakter membawa pesan sendiri terhadap keresahan-keresahan yang coba diungkapkan penulis dalam bukunya. Melalui narasi yang diungkapkan oleh tokoh-tokoh dalam tulisannya, penulis mencoba mengkritik beberapa hal.

Seseorang yang bertuhan seharusnya membangun jembatan, bukan dinding. Membangun tanah lapang, bukan menara. Sebab keimanan seharusnya menghubungkan, bukan membatasi. Meluas, bukan meninggi.” (halaman 75)

Televisi menyiarkan berita korupsi yang terjadi dalam persiapan Ujian Nasional. Lucu sekali. Sekolah menekankan betapa buruknya mengambil hak orang lain. Namun, tak bisa mencegah orang-orang dalam sistem pendidikan melakukannya.” (halaman 201)

Tokoh Aku digambarkan sebagai tokoh yang secara emosional datar-datar saja. Tidak memiliki selera humor, dan bereaksi sama terhadap semua hal yang dialaminya. Saat tiga jarinya harus tanggal, saat orang tuanya meninggal akibat kebakaran, diajak putus dia setuju, diberitahu kalau mantannya hamil anak orang lain dia biasa saja, tidak diberitahu bapak si jabang bayi dia tak masalah. Tokoh aku digambarkan tak pernah marah pun tak pernah sedih. Datar-datar saja.

Marah nggak akan mengubah apa yang sudah terjadi, kan? Aku nggak mau direpotkan dengan perasaan seperti itu. Marah terhadap pilihan orang lain itu merepotkan, karena secara nggak langsung aku harus memikirkannya terus-menerus. Rasanya seperti membawa neraka kecil di pundak, dan aku harus membawanya ke mana-mana.” (halaman 212)

Tokoh Kamu, memiliki selera humor yang sama ganjilnya dengan tokoh Aku, digambarkan sebagai orang yang paling dekat dengan tokoh Aku. Tapi, dalam sebuah part, tokoh Aku menjelaskan hubungannya dengan Kamu. ‘Bukan sahabat, bukan juga musuh. Sama saja. Aku senang menghabiskan waktu dengannya, akan tetapi bukan masalah besar jika ia tak ada. Kurasa ia pun berpikir demikian’. Tokoh Kamu dan tokoh Aku seperti satu jiwa dalam dua raga. Kadang-kadang keduanya memiliki ‘suara’ yang sama dalam memandang beberapa hal. Anak SMA hobi mengisap ganja dan minum-minum, yang senang membahas hal-hal kurang penting dan menjadikannya menarik untuk disimak.

Ada juga tokoh Permen, perempuan yang—konon—ditaksir oleh Kamu. Lewat tokoh Permen, Johan, dan seorang teman Permen penulis mencoba mengkritisi sistem pendidikan khususnya yang terjadi di negeri ini. Melalui tokoh Perempuan Teman Sekelas, penulis ingin sedikit menyinggung apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Lalu lewat tokoh Mantan Pacar, penulis tampaknya ingin mencoba menghadirkan tema ‘Anak Sekolah yang Hamil di Luar Nikah, tapi Tetap Ingin Sekolah’.

Menurutku jatuh cinta itu nggak indah-indah amat. Kau buka hatimu supaya seseorang masuk ke dalam, kau jaga dia agar betah dan sehat, dan seterusnya, dan seterusnya. Seperti memelihara orang lain dalam tubuh sendiri. Sialnya, kau nggak punya perangkat untuk sepenuhnya memahami orang lain.” (halaman 279)

Ada dua hal yang menjadi perhatian saya sebagai pembaca—alih-alih disebut kekurangan—adalah pada beberapa tokoh saya masih mendapati keseragaman ‘suara’. Entah itu tokoh Aku dengan tokoh Kamu yang kadang-kadang susah dibedakan ‘suaranya’. Atau saat detektif polisi yang menyamar sebagai pedagang bakso sedang membahas soal kehilangan dengan tokoh Aku dan Kamu.

Di dunia ini tak ada yang hilang. segala sesuatu yang tidak ada di tempat semula, kan, hanya berpindah tempat. Kalau dicari terus mungkin akan ketemu, tapi buat apa? Biar saja begitu. Tadinya ada, lalu tidak ada. Seperti mimpi. Orang-orang lahir dan mati, benda-benda diciptakan, lalu rusak, dan dibuang. Tak perlu disesali. Biar saja. Segalanya baik dan tidak ada yang terluka.” (halaman 153)

Selain itu, ada beberapa kata yang tidak dipisahkan dengan spasi, jadi dua kata bersambung. Meskipun tidak terlalu mengganggu, tapi cukup mengalihkan perhatianku *duh. Ada pula satu kata yang tidak sesuai ejaan: frustasi yang harusnya ‘frustrasi’ (halaman 278).

Pada akhirnya, Sabda Armandio melalui hal-hal absurd dalam buku ini memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk pembacanya. Penulis menularkan keresahan-keresahannya kepada para pembacanya. KAMU tidak menawarkan hal apa-apa. Seperti dalam buku yang sering dibaca tokoh Aku, ‘Bagian Terbaiknya adalah Tak Ada Bagian Terbaik’, tak ada bagian terbaik dalam buku ini. Tapi justru itulah yang membuat buku ini menarik untuk dibaca dan dikulik.

*

Setelah permainan berakhir, raja dan bidak masuk ke kotak yang sama.”

Seperti bahagia, tidak bahagia pun sederhana. Dan keduanya tetap masuk kotak yang sama setelah semuanya selesai. Sama saja.

-dhilayaumil-

[Review Buku] Mati Baik-Baik, Kawan: Tentang Sejarah yang Ditutup(i)

image

Judul buku : Mati Baik-Baik, Kawan
Penulis : Martin Aleida
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Penerbit : Akar Indonesia
Tahun terbit : 2009
Jumlah hal. : 144 halaman
ISBN : 979190044-2

 

Tentang Sejarah yang Ditutup(i)

Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…”

Saat saya sekolah dulu—bahkan sampai sekarang—pengetahuan sejarah saya sangat minim. Saya tidak begitu tertarik mempelajari sejarah, jujur. Baru dua tahun terakhir ini entah kenapa, melalui sastra, saya sepertinya mulai menyukai sejarah. Haha. Sastra, membawa saya mengetahui hal-hal yang bahkan tak akan saya temui di bangku sekolah. Sejarah yang coba ditutup-tutupi atau dibuat kabur misalnya.

Mati Baik-Baik, Kawan berisi sembilan cerpen yang ditulis Martin Aleida, mengangkat tema peristiwa ’65—disebut-sebut sebagai tahun-tahun tergelap bangsa Indonesia—yang dalam buku-buku sejarah dulu dikenal dengan G30S/PKI. Penulis mencoba menghadirkan lagi cerita bertema ’65 dengan versi yang sangat berbeda dengan yang dibentuk pemerintahan orde baru.

Melalui antologi cerpennya, Martin bercerita dari sudut pandang korban peristiwa tersebut, korban ‘pelabelan’ komunis, korban stigma dari apa yang dibentuk oleh pemerintah, korban—bahkan keturunannya—yang sampai mati membawa ketakutan-ketakutan akibat label tersebut.

Cerpen pertama, Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh, bercerita tentang lelaki berdarah Bali yang memilih lari meninggalkan tanah kelahirannya demi angan bahwa suatu hari dia bisa mati terhormat. Tidak seperti ayahnya yang diseret ke tepi lubang lalu tengkuknya dihantam linggis hingga meninggal di dalam lubang, ditimbun bersama jasad petani lain, tanpa doa dan upacara.
Dalam cerpen pertama jelas keinginan tokoh Mangku yang tidak tahan dan ingin lari sejauh-jauhnya dari kampung yang ia cintai tapi tak ingin mati di tanahnya. Mangku sebagai perwakilan dari mereka yang tidak tahan dengan tekanan dari masyarakat dan aparat pemerintah yang memandang dia sebagai antek-antek komunis. Cerpen ini memiliki magisnya sendiri bagi saya—dan mungkin berlaku untuk pembaca yang lain. Bahkan di paragraf terakhir—di mana Mangku memperlakukan kera-nya yang mati dengan sangat terhormat—saya sempat bergidik saat membacanya, “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…

Tanpa Pelayat dan Mawar Duka adalah cerpen kedua dalam buku ini. Bercerita tentang seorang lelaki yang pada saat meninggal dunia, tak ada seorang pun yang datang melayat. Orang-orang yang dia rebut tanahnya secara paksa dulu—sebelum pemerintahan 30 tahun lebih di negeri ini lengser—telah datang membawa dendamnya masing-masing. Tak ada pelayat yang datang, apalagi bunga duka. Pekuburan sepi, bahkan para penggali kuburan memilih menepi dan tak menghiraukan peti mati yang teronggok di atas tanah-tanah hasil rampasan dari mereka.
Pikiran mereka melayang mengenang ayah mereka yang dipaksa naik ke atas truk di tengah malam, dilarikan entah ke mana. Disiksa untuk mengakui apa yang tak mereka perbuat, atau pikirkan sekalipun. Melalui kalimat tersebut, penulis mencoba memperlihatkan lagi bagaimana kenyataan yang harus dihadapi oleh mereka yang tak tahu apa-apa tapi dipaksa mengakui dan bagaimana nasib keturunan-keturunan mereka. Dan lagi-lagi pada penutup, Martin seolah menunjukkan kegetiran dari sisi lain: Tak ada suasana duka di pekuburan itu. Kecuali pada sebentuk hati seorang istri yang harus menggali sendiri liang lahat untuk jenazah suaminya.

Cerpen Malam Kelabu, tentang seorang pemuda bernama Kamaluddin Armada yang ingin melamar kekasihnya di satu desa yang sedang memanas karena isu komunis. Sebelum sampai di rumah kekasihnya, dia harus menemui kenyataan pahit tentang calon istrinya itu beserta keluarganya. Buah dari pelabelan ‘komunis’, lagi-lagi.

Mengawini anak seorang komunis bukan berarti kita komunis. Aku kawin dengan anaknya, bukan dengan ayahnya.’

Karena di rumah mereka bersembunyi seorang komunis, tak peduli Ibu Mulyo yang buta huruf. Seperti di daerah lain, keluarga komunis ikut hilang, tak peduli apakah mereka buta politik atau tidak.’

Lagi-lagi melalui cerpen ini penulis mewakili korban-korban yang diberi ‘cap’ ikut bertanya, apa salahnya menjadi komunis? Apa salah keluarga yang tak tahu apa-apa, lalu karena satu orang di keluarganya ‘dituduh komunis’, lantas mereka ikut dihilangkan? Lewat tokoh Kamal dan seorang carik desa, Martin memberitaukan bagaimana rasa kehilangan dan penyesalan atas sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak tahu apa-apa.

Leontin Dewangga mengisahkan pasangan suami istri yang menyembunyikan rahasia masa lalu yang sebenarnya saling berkaitan. Mereka adalah korban-korban pe-label-an orba, yang takut jika suatu saat nanti pasangan mereka tahu dan membenci satu sama lain. Hingga di detik-detik terakhir Dewangga menghembuskan nafas, rahasia itu baru terkuak. Betapa kesedihan dan kedukaan masa lalu harus mereka bawa dan rahasiakan selama membangun rumah tangga.

Lalu, Ode untuk Selembar KTP, tentang perempuan berusia tujuh puluh dua tahun yang begitu bahagia di umurnya yang renta itu, menerima selembar KTP yang di dalamnya tak ada lagi embel-embel ET—eks tahanan politik. ‘Aku tak tahu apa kesalahan suamiku menjelang bencana tahun 1965, sehingga dia harus dilenyapkan. Dan istrinya, anak-anaknya yang masih merah, harus menderita.’

Bertungkus Lumus, tentang duka yang dibawa seorang perempuan korban kebiadaban zamannya, yang meskipun terluka dengan apa yang didapatkannya, dia tetap bertahan demi anak yang dicintainya. ‘Dendam bisa kehilangan isi, ingatan tak akan pernah.’

Salawat untuk Pendakwah Kami adalah kisah dari seorang Haji Johansyah, seorang penjual kupiah yang terkenal ramah dan humoris. Saat Haji Johansyah meninggal begitu banyak pelayat yang datang dari penjuru kota, mengenang hal-hal baik yang sering dilakukan pak haji itu. Dan lagi-lagi benang merahnya adalah tahun ’65. Melalui kisah sederhana Haji Johansyah, Martin seolah ingin memberitahu pada pembacanya bahwa siapa saja bisa jadi korban kebiadaban orba, meskipun hanya seorang penjual kupiah yang secara kebetulan dituduh menyumbangkan kupiah untuk hari ulang tahun Partai Komunis Indonesia.

Dendang Perempuan Pendendam tentang seorang perempuan yang mendendam pada pamannya yang dengan tega merampas tanah warisan ayahnya—yang ‘hilang’ karena dituduh komunis—dengan cara menggeser patok secara licik. ‘Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Terlalu lama aku memendam dendam yang telah membatu…’

Di akhir, Ratusan Mata di Mana-Mana sebagai penutup memberikan cerita tentang kisah si penulis itu sendiri. Apa dan bagaimana dia menggeluti pekerjaannya serta alasan ketika dia memilih berhenti.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen dalam buku ini memberi penekanan yang mendalam terhadap rasa sedih, pilu, kehilangan, dendam, dan rahasia luka di masa lalu, yang bahkan mereka—para korban—sendiri tak tahu apa yang mereka perbuat sehingga diperlakukan semena-mena oleh penguasa yang lalim.
Martin berhasil memberi emosi pada setiap cerpennya, seolah-olah korbanlah yang sedang bercerita. Realisme magis dalam cerpen-cerpen tersebut sangat tampak, lagi- lagi berkat keberhasilan penelitian dan riset mendalam yang dilakukan oleh penulis. Tak ragu saya memberikan 5 dari 5 bintang untuk buku ini.

-dhilayaumil-

[Review Buku] Remember When: Cinta Punya Waktunya Sendiri untuk Hadir

image

Judul buku : REMEMBER WHEN
Penulis : Winna Efendi
Editor : Samira & Gita Romadhona
Proofreader : Christian Simamora
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : 2011
Jumlah hal. : viii + 252 halaman
ISBN : 979-780-487-9

                           Cinta Punya Waktunya Sendiri Untuk Hadir
                     “Apapun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.”

Setiap orang memiliki momen-momen remember when yang tidak terlupakan; kenangan yang akhirnya tersimpan rapi dalam kotak memori, saat-saat bermakna yang sesekali akan kita putar kembali untuk dikenang (Winna Efendi).

Remember When bercerita tentang kisah empat orang anak SMU yang menjalin hubungan persahabatan dan hubungan cinta. Freya, Gia, Moses, dan Adrian. Cerita berawal saat penembakan, Adrian dan Gia serta Moses dan Freya. Bagian selanjutnya berisi konflik-konflik yang seakan tak pernah habis dari keempat siswa putih abu-abu ini. Ada beberapa kejadian yang membuat tokoh-tokohnya kemudian berpikir “Apakah benar dia orang yang tepat untukku?”

Novel ini adalah novel kedua Winna yang saya baca setelah AI. Winna menggunakan sudut pandang orang pertama dengan lima orang pencerita—Moses, Freya, Adrian, Gia, dan Erik—serta dibagi ke dalam lima bagian cerita yang masing-masing diberi judul bagian lagi.

Cerita yang ditampilkan klise percintaan anak SMA, bahkan di bab awal sudah bisa ditebak konflik hubungan mereka nantinya seperti apa. Beruntungnya konflik-konflik kompleks dan lumayan menguras emosi (halah :p) menjadikan novel ini cukup menarik. Penggunaan sudut pandang dengan banyak pencerita juga membuat pembaca bisa membandingkan sendiri seperti apa karakter tokoh-tokoh di dalam cerita.

Hanya saja karakter tokoh di dalamnya memang terasa agak dewasa, atau mungkin memang begitulah karakter anak SMA zaman sekarang. hahaha. Mungkin karena saya adalah juga salah satu pembaca novel-novel dengan tokoh remaja, jadi saya bisa merasakan sendiri perbedaan tokoh remaja dari novel yang satu dengan novel lainnya. Ending yang memang bisa ditebak juga menjadikan cerita ini kehilangan ‘greget’ di akhir.

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, saya sangat menikmati cara bertutur Winna dalam buku ini. Lancar dan tidak membosankan. Saya suka cara dia memainkan sudut pandang, sama seperti di AI. Maka dari itu saya memberi 2,8 dari 5 bintang untuk novel remaja ini.

-dhilayaumil-