[Resensi Buku] The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde : Dua Sisi Manusia

“Aku telah menghukum dan membahayakan diriku sendiri dan aku tidak bisa menjelaskannya. Apabila aku adalah pendosa terberat, maka aku harus menjadi penderita terberat pula. Menurutku tidak ada tempat di dunia ini di mana penderitaan dan kengerian bisa dilenyapkan; tapi kau bisa melakukan satu hal, Utterson, untuk meringankan takdir ini, yaitu menghormati keheninganku.”

picsart_01-09-12-20-22

Dalam usaha mencari jati dirinya, Dr. Henry Jekyll yang cemerlang justru menemukan monster. Dia berhasil memisahkan sisi baik dan sisi buruk dirinya. Namun, ketika sisi buruk itu mulai menguasainya, Dr. Jekyll menyadari bahwa dia tak mungkin terus menjalani kehidupan gandanya.

Kisah klasik yang mendebarkan ini merupakan kajian tentang dualitas sifat manusia, dan melalui karyanya ini, Robert Louis Stevenson kian memantapkan reputasinya sebagai pengarang.

* Continue reading

[Resensi Buku] P.S. I Like You : P.S. Aku Menyukaimu. Sangat Menyukaimu

Kalau kau menginginkan hubungan romantis dengan seorang cowok, pertama-tama dia harus menganggapmu sebagai cewek misterius, lalu menarik, lalu lucu. Urutannya seperti itu. Kalau urutannya berbeda, kau akan diberi label teman untuk selamanya.”

picsart_12-25-08-02-271

Saat sedang melamun di kelas Kimia, Lily menuliskan sebaris lirik lagu favoritnya di meja. Hari berikutnya, dia menemukan seseorang telah melanjutkan lirik itu dan bahkan menulis pesan untuknya!

Tak lama, Lily dan sahabat pena misteriusnya itu mulai berbagi surat dan rahasia, saling memperkenalkan band favorit mereka, dan mulai terbuka satu sama lain. Bahkan, Lily mulai menyukai orang yang menulis surat-surat itu. Hanya saja, siapa dia?

Lily mencoba mencari tahu siapa teman misteriusnya, tapi siapkah dia mengetahui kebenarannya?

*

Maafkan saya, Mr. Ortega. Saya dan Kimia tidak saling memahami.”

Lily Abbott tidak begitu menyukai pelajaran Kimia. Saat pelajaran Mr. Ortega tersebut berjalan, Lily lebih sering menulis di buku catatannya dibanding mencatat materi yang diberikan oleh gurunya. Akibatnya, Mr. Ortega yang mungkin sudah lelah menghukumnya dengan melarang Lily megeluarkan buku catatan hijau-ungu favoritnya saat pelajaran Kimia. Ia hanya dibolehkan mencatat di selembar kertas.

Saat pelajaran Kimia berikutnya Lily harus bertahan untuk tidak tertidur atau mati kebosanan tanpa buku catatannya. Ia memilih menulis sebaris lirik dari band indie favoritnya di mejanya. Betapa terkejutya ketika keesokan harinya, di kelas Kimia, ada seseorang yang melanjutkan lirik tersebut. Itu memberi harapan pada gadis tersebut bahwa pelajaran Kimia selanjutnya akan sedikit menyenangkan.

Lily mulai bertukar pesan dengan sahabat pena misteriusnya. Mulai dari pesan yang ditulis dengan pensil di meja, sampai dengan surat-surat yang ditulis di kertas lalu diselipkan di bawah meja. Ia dan sahabat pena-nya bahkan mulai berbagi rahasia dan hal-hal pribadi. Lily bahkan berbagi tentang keinginannya menjadi penulis lagu. Mereka berbagi lagu-lagu favorit serta kosakata baru yang bisa membantu Lily menulis lirik lagu.

Kehidupan Lily di sekolah sebenarnya tidak bisa dibilang buruk—tapi bukan berarti dia siswa yang beruntung. Dia berpenampilan tidak seperti siswa ‘normal’ kebanyakan. Sedikit hipster, senang mendaur ulang baju yang dia beli di toko barang bekas, senang menjahit, lebih suka menulis dan menggambar di buku catatan daripada mengobrol dengan orang lain. Selera musiknya pun tidak seperti teman-temannya. Ia punya seorang sahabat bernama Isabel Gonzales dan menyukai diam-diam senior yang bernama Lucas Dunham.

Tak punya banyak teman bukan berarti dia tak punya musuh. Cade Jennings adalah satu-satunya orang yang tidak ia sukai sejak peristiwa yang membuatnya dapat julukan yang sama sekali tidak ia sukai. Mereka selalu saja saling sindir, kapan pun mereka bertemu. Cade sendiri adalah mantan pacar Isabel.

Lily harus menahan-nahan untuk tidak mencari tahu siapa sahabat pena misteriusnya yang mulai menarik hatinya. Ia membuat daftar dengan judul ‘Tersangka’ pada salah satu bagian di buku catatannya dan menulis beberapa kandidat orang yang mungkin saja adalah sahabat penanya. Bahkan Lucas ada dalam salah satu daftarnya.

Akankah Lily bertemu dengan sahabat pena-nya? Ataukah dia sebenarnya adalah orang yang Lily kenal? Akankah Lily menyelesaikan lirik lagunya? Ikuti kehidupan Lily di kelas Kimia, kantin sekolah, hingga di dalam rumah yang tidak pernah berada dalam kondisi ‘normal’.

*

picsart_12-25-08-15-011

Membaca P.S. I Like You karya Kasie West ini mengingatkan saya pada sensasi saat membaca Fangirl karya Rainbow Rowell (juga diterbitkan Penerbit Spring). Cath dan Lily sepertinya sedikit memiliki kepribadian yang mirip, meski Lily ini lebih hipster. Saya kadang senyum-senyum sendiri membayangkan kehidupan Lily. Pastinya seru jika memiliki sahabat pena, seseorang yang jadi tempat berkirim surat. Mungkin sensasinya mirip-mirip dengan saat berkenalan dengan teman di MiRC dulu. Oke, lupakan soal MiRC. Masa sekolah memang salah satu momen yang susah untuk dilupakan. Continue reading

[Resensi Buku] In A Strange Room : Perjalanan Mencari Jati Diri

Perjalanan adalah gerakan yang digoreskan dalam ruang, gerakan itu hilang bahkan selagi dilakukan. Kita pergi dari satu tempat ke tempat lain, menuju tempat lain lagi, dan di belakangmu tertinggal jejak yang menegaskan kehadiranmu di sana. Jalan yang kita lewati kemarin sudah dipenuhi jejak-jejak orang lain hari ini, tak seorang pun di antara mereka mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Potongan-potongan tanda keberadaan dirimu dihapus dan dibuang. Udara menutup di belakangmu seperti air. Tak lama kemudian kehadiranmu sudah benar-benar hilang. Semua hal terjadi hanya sekali dan tidak pernah terulang, tidak pernah kembali. Kecuali dalam ingatan.

20161205_054733.jpg

Damon melakukan perjalanan dari Cape Town, Afrika Selatan, menuju Yunani, lalu kembali ke Afrika Selatan, kemudian melakukan perjalanan lagi menuju India. Di perjalanan ia bertemu dengan orang-orang yang tanpa sengaja menjadi teman seperjalanannya. Di Yunani ia bertemu Reiner, seorang lelaki Jerman yang menarik dan unik, tetapi memiliki sikap superior yang tinggi. Bersama Reiner, Damon menjadi seorang ‘Pengikut’. Meski ingin, ia merasa tidak mampu dan tetap menjadi pengikut bagi Reiner.

Kembali ke Afrika Selatan, ia melakukan perjalanan lagi. Kali ini menuju tempat-tempat di Afrika: Zimbabwe, Tanzania, Malawi, Zambia, dan tempat-tempat lain di Afrika. Di perjalanan, ia bertemu dengan sekelompok backpacker ceroboh: Alice, Jerome, Christian, dan Roderigo. Bersama rombongan tersebut, ia menjadi seorang ‘Pencinta’.

Setelah melalui perjalanan panjang yang berakhir dengan surat dari Swiss yang mengabarkan peristiwa tragis, Damon memilih ‘pulang’. Ia menempati sebuah rumah yang bisa ia tempati. Damon masih memikirkan perjalanan-perjalanan lainnya. Pada akhirnya ia melakukannya lagi. Kali ini ia menuju India bersama seorang teman bernama Anna yang menderita depresi tingkat tinggi. Dalam perjalanan yang dimaksudkan untuk ‘liburan’ bagi si sakit, Damon adalah seorang ‘Pelindung’. Apa yang dialami Damon di India adalah perjalanan yang sugguh melelahkan fisik dan mental.

Pada akhirnya, Damon masih mencari-cari apa yang disebut ‘pulang’.

*

Tak seperti kisah-kisah perjalanan yang menyenangkan dan penuh dengan pengalaman-pengalaman bahagia, perjalanan Damon dalam novel ini sungguh, sungguh, sungguh melelahkan. Membacanya membuat saya merasakan apa yang mungkin Damon rasakan: kesepian yang teramat, keputusasaan, kelam, keinginan akan sesuatu yang sulit diwujudkan, serta perasaan yang asing.

Damon menggambarkan dengan total perasaan-perasaan tersebut. Bagaimana ia berjalan dari satu tempat menuju tempat lainnya, menciptakan kenangan. Perjalanan memaknai arti ‘pulang’ dan mencari tempat yang disebut ‘rumah’.

“Dalam kondisi ini, perjalanan bukan perayaan melainkan malah terasa seperti berkabung, suatu cara untuk menghilang.” (Halaman 94)

Damon belajar banyak hal dari perjalanannya. Bagian favorit saya—sekaligus saya rasa paling melelahkan saat membaca—adalah bagian ketiga, saat Damon bersama Anna menuju India. Novel yang menjadi nominator The Man Booker Prize 2010 ini terbagi menjadi tiga bagian; Pengikut, Pencinta, dan Pelindung. Tiap bagian memiliki kisah masing-masing yang memberitahu banyak hal kepada pembaca.

Bagian tentang perjalanan yang paling terasa adalah saat Damon bersama para backpacker di Afrika. Saya suka saat mereka di Zimbabwe—oke, ini alasannya sangat pribadi hahaha. Melalui sudut pandang Damon, ia bisa menceritakan sisi lain tempat-tempat tersebut. Meski lagi-lagi, bagi Damon, tak ada penggambaran tempat yang benar-benar indah.

Damon adalah seorang penyendiri, tetapi jika datang ajakan untuk melakukan perjalanan, ia mau-mau saja. Meski ia tetap saja menjaga jarak dengan orang-orang. Begitulah Damon. Ia memilih bersama-sama tetapi berdiri di luar lingkaran.

img_20161202_2341091Lebih dari sebuah novel perjalanan, In A Strange Room adalah novel tentang pencarian jati diri.

*

Judul buku: IN A STRANGE ROOM │ Penulis: Damon Galgut │ Alih bahasa: Yuliany C. dan Shandy T. │ Penerbit: Elex Media Komputindo │ Tahun terbit: 2010 │ Jumlah halaman: 265 halaman │ ISBN: 978-979-27-8972-0

[Resensi Buku] Strawberry Cheesecake : Manis Asam Cinta dalam Stroberi

Kamu harus terus belajar kalau tidak mau tertinggal. Betapa pun berbakatnya kamu, orang-orang yang belajar akan mengalahkan kamu, dan orang yang belajar paling banyak yang akan jadi pemenangnya.”

img_20161014_2036111Alana adalah seorang selebritis yang ‘terjebak’ dalam acara memasak di tv. Ia menyadari bakatnya adalah dunia entertainer, bukan di dapur. Tetapi demi Aidan, yang menyukai perempuan yang bisa memasak, ia akhirnya menerima tantangan dalam acara masak tersebut. ‘Toh, aku bisa belajar masak dari youtube,’ pikir Alana.

Tempat diadakannya tantangan dalam acara masak tersebut adalah sebuah deli yang terletak di daerah Bandung yang bernama Strawberry Garden Deli. Saat kali pertama menginjakkan kaki di tempat itu, di depan kamera tv yang sedang menyala, Alana menangkap sosok pengunjung yang ingin kabur tanpa membayar makanan terlebih dahulu.

Insiden tersebut mempertemukannya dengan Regan—si pelaku yang ia tangkap basah—yang ternyata sudah kali kedua ia temui tetapi tak ingat di mana ia pernah bertemu lelaki itu. Di luar dugaan, Regan yang berpenampilan sangar itu ternyata memiliki bakat memasak. Sadar karena dalam dua tantangan sebelumnya di Strawberry Garden Deli dirinya selalu kalah telak, Alana berpikir untuk menjadikan Regan sebagai ‘guru memasak’nya. Sayangnya, permintaan tersebut tak semudah membeli sepatu-sepatu bermerek bagi Alana. Ia harus memohon mati-matian agar akhirnya Regan mau mengajarinya memasak, meskipun dengan syarat yang sungguh membuat Alana bingung.

Apakah syarat yang diajukan Regan? Berhasilkah Alana melewati tantangan dalam reality show memasak tersebut dan membuat Aidan terkesan? Banyak hal yang dilalui Alana selama syuting acara memasak yang lambat laun membuatnya berpikir, “Apakah memang benar ini yang kuinginkan untuk orang yang kucintai?” Continue reading