[Resensi Buku] Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan : Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Aku menjadi yakin bahwa pada dasarnya perempuan punya watak pelupa jika telah mendapatkan cinta lain yang membuatnya nyaman berlindung di dalamnya.”

2016-02-20_01.11.26

Renja, sang tokoh utama dalam novel ini, akhirnya bertemu dengan Adel, teman masa kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik dan berani. Pertemuan keduanya terjadi di bangku kuliah, saat keduanya—ternyata—kuliah di kampus dan fakultas yang sama. Renja mengambil Jurusan Arsitektur sedangkan Adel mengambil Jurusan Teknik Sipil di Kampus Merah.

Pertemuan dua teman kecil ini tak hanya membuka jalan ingatan masa kecil mereka, tetapi juga menyadarkan salah satunya bahwa ternyata ada cinta yang ia pelihara sejak kecil… dan tak pernah padam hingga kini. Perjalanan untuk mendapatkan cinta salah satunya ternyata tak semulus yang dikira. Kini, ada orang lain di antara mereka. Bukan hanya itu, perasaan bersalah yang dibawa dari masa lalu makin membuka jurang tak nampak di antara mereka.

Pada akhirnya, bagi Renja, yang sulit dimengerti adalah perempuan.

*

Novel 245 halaman ini menggunakan sudut pandang Renja sebagai pencerita. Ada banyak tokoh yang masing-masing karakternya mudah dibaca. Renja si tokoh utama yang mencintai Adel, melankolis, dan labil; Adel yang seorang aktivis, pintar, dan memiliki senyum menawan; Rustang yang adalah sahabat Renja yang bisa diandalkan, humoris, dan doyan ikut demonstrasi;  Ketua BEM—yang sampai cerita selesai tak diketahui namanya—yang cerdas, dewasa, dan berwibawa; Kumala yang sebenarnya adalah perempuan idaman Rustang, tetapi malah mencintai Renja; Naufal teman kos Renja yang juga mahasiswa kedokteran gigi dan juga kutu buku.

Tokoh dalam buku ini saling berhubungan satu sama lain. Tak heran kalau sudah selesai membaca bukunya kalian juga akan berkomentar bahwa tokoh-tokoh dalam novel ini seperti rantai makanan yang berputar di area itu-itu saja. Tak ada tokoh kejutan. Hanya ada karakter tokoh yang rumit—alih-alih sulit dimengerti.

Konflik utama yang disajikan penulis tak lain dan tak bukan adalah tentang cinta. Bedanya, novel ini menyuguhkan hal lain selain tema yang sudah sangat klise itu. Penulis mengangkat kasus Kospin (Koperasi Simpan Pinjam) yang terjadi di Pinrang sekitar tahun 1998, yang pada saat itu investasi Kospin yang jumlahnya sekitar 800 Miliar dibawa kabur oleh para pemimpinnya dan memicu kerusuhan massal (halaman 60). Kospin menjadi salah satu benang merah penghubung antara Renja dan Adel—satunya anak korban dan satunya anak pelaku. Selain itu, penulis menyuguhkan hal yang berbeda tentang kehidupan mahasiswa yang sering muncul dalam novel-novel lain. Fitrawan dengan berani mengangkat kehidupan mahasiswa Kampus Merah—yang identik dengan salah satu kampus di Makassar—yang sering tawuran antar-fakultas, demonstrasi, bahkan sampai kelakuan para mahasiswa saat Ospek.

Menurut saya, ada dua karakter yang lebih menarik dari dua tokoh utama dalam novel bersampul indah ini; Rustang dan Naufal. Rustang adalah tokoh dengan karakter yang let it flow. Dia menanggapi masalah dengan santai dan tidak dibawa lebay atau melankolis. Bahkan ketika Kumala, gadis pujaannya, lebih memilih Renja daripada dirinya, dengan lapang dada Rustang menerimanya. Rustang adalah penetrasi sikap Renja yang terlalu ‘lemah’. Sedangkan Naufal adalah sosok dewasa yang lewat kalimat-kalimat bijaknya menasihati Renja tiap tokoh utama kita down. Naufal juga mewakili orang-orang yang pada zaman ini masih terikat tradisi dijodohkan dengan perempuan yang masih memiliki hubungan keluarga.

Kalau kau sakit gigi, meski saya belum selesai kuliah, saya bisa mengatasinya. Tapi kalau kau sakit hati, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” (Halaman 153).

Selain kelebihan dan kekurangan di atas, satu hal yang sedikit mengganggu saya adalah bahasa yang digunakan oleh tokoh. Antara mau menggunakan dialek Makassar dengan bahasa Indonesia yang baku, jadinya agak kaku dibaca. Mungkin lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja agar pembaca dari luar Makassar pun tidak terlalu ‘aneh’ saat membaca dialog-dialog tokohnya. Toh dengan penyebutan latar tempat dan budaya atau sesekali bahasa daerah para tokohnya, pembaca akan paham bahwa tokoh-tokohnya berbicara dengan logat atau dialek Makassar.

Kenapa masih mau berteman dengan saya?” Riak ombak menjadi latar suaranya, menambah efek penasaranku akan jawabannya. “Bukannya dirimu seharusnya membenciku?”

“Siapa yang mau berteman? Saya bilang mau lebih dari sekadar teman.”

“Tapi kenapa suka sama saya?”(Halaman 109).

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan di atas, novel ini cocok dibaca untuk siapa saja. Mulai dari remaja, ABG, dewasa, pelajar, mahasiswa, orang kantoran, atau yang pengangguran silakan baca buku ini. Banyak kritik dalam novel ini, kepada pemerintah, birokrasi kampus, bahkan kepada mahasiswa—yang katanya agent of change.

*

Identitas buku

Judul buku : Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Penulis : Fitrawan Umar

Penyunting : Pringadi Abdi

Penyelaras Akhir : Shalahuddin Gh

Pemindai Aksara : Chandra Citrawati

Penata Letak: desain651

Desain Sampul: Iksaka Banu

Penerbit : Exchange

Tahun terbit : 2015

Jumlah hal. : 245 halaman

ISBN : 979602727933-9

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379776419-2-1.jpg

 

Advertisements

[Resensi Buku] 1 Perempuan 14 Lelaki : Tema yang Berulang

Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa memesan segelaa bir, tetapi kita tak pernah bisa memesan takdir.”

image

Bagaimana jadinya kalau seorang penulis perempuan berkolaborasi menulis cerpen dengan 14 orang lelaki yang memiliki latar belakang profesi yang berbeda-beda?

Kumpulan cerpen: 1 Perempuan 14 Laki-Laki akan menjawabnya. Djenar Maesa Ayu bersama 14 lelaki lainnya melahirkan 14 cerpen yang ditulis secara duet. Mulai dari cerpenis, aktor teater, seniman, presenter, penyiar radio, pemain band, pemain film, budayawan, sutradara, dosen, dalang wayang, kritikus film, hingga penari. Proses kreatif bersama keempat belas lelaki tersebut diceritakan Djenar di bagian pembuka kumpulan cerpennya.

Cerita pertama dibuka oleh Kunang-Kunang dalam Bir yang ditulis Djenar bersama Agus Noor. Berkisah tentang seorang lelaki yang mencoba mereguk kembali kenangannya bersama perempuan yang sangat ia cintai. Perempuan yang sayangnya lebih memilih menikahi lelaki lain.

Cerpen lainnya, Rembulan Ungu Kuru Setra, adalah cerpen kedelapan hasil kolaborasi Djenar dengan Sujiwo Tejo. Mengangkat tema perselingkuhan atas nama cinta. Menariknya, Sujiwo Tejo tak menanggalkan kekhasannya dengan menggunakan nama tokoh-tokoh pewayangan dan latar yang berhubungan dengan mitologi-mitologi.

Kamu tahu nggak, kata ayahku, Radityaputra itu nama lainnya Adipati Karna. Kesatria ini sebetulnya anak Kunti, nama lain Prita.” Raditya mengenang percakapan mereka saat salju membentuk jutaan bintang di muka danau beku.

Cerpen kesepuluh berjudul Bukumuka adalah hasil kolaborasi Djenar dengan Nugroho Suksmanto. Judul yang diambil dari terjemahan suatu situs jejaring pertemanan ini lagi-lagi berkisah tentang perselingkuhan. Hanya saja kisah ini ternyata berakhir lebih kompleks. Kusmanto, sang tokoh utama, pada akhirnya dihadapkan pada dilema: melompat dari lantai 36 gedung kantornya ataukah menghadapi kelakuan gila suami selingkuhannya?

Salah satu cerpen favorit saya adalah Ra Kuadrat karangan Djenar dengan aktor Lukman Sardi. Cerpen yang hanya mengambil porsi empat halaman ini berkisah tentang masa lalu sepasang suami istri, Rani dan Ranu. Rani, sang istri, secara tidak sengaja menemukan buku harian suaminya. Dari situ terkuaklah satu rahasia tentang masa lalu sang suami.

Keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki tema yang mirip-mirip. Seks, perselingkuhan, dendam, penyesalan dan perasaan sakit. Gaya berceritanya pun seperti cerpen-cerpen Djenar yang pernah saya baca, terkhusus konten-konten dewasa–dan vulgar. Terasa seperti semua cerita dalam buku ini adalah buah ide Djenar yang kemudian dikembangkan berdua. 

Konsep yang ditawarkan Djenar dengan menggaet 14 lelaki untuk berkolaborasi menulis cerpen sebenarnya sangat menarik. Hanya saja dalam proses pengeksekusiannya menurut saya tidak begitu berhasil. Beberapa tulisan bahkan berhasil membuat saya frustrasi karena tak mengerti apa yang ingin disampaikan. Bahkan ada beberapa cerpen yang saya baca berulang. Entah karena bahasanya yang terlalu ‘tinggi’ dan berbunga-bunga ataukah memang otak saya tidak cepat tanggap mencerna. Entah….

Terlepas dari kekurangan dan berbagai hal yang mengganjal di atas, saya mengapresiasi Djenar dan keempat belas lelaki yang menulis di dalam buku ini. Bagaimanapun, menulis berdua itu tidak mudah dan tantangannya bisa dua kali lipat juga. ^^
———————————–
Judul buku: 1 Perempuan 14 Lelaki | Penulis: Djenar Mesa Ayu, Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet Kertaredjasa, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, Totot Indrarto | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2011 | Jumlah halaman: xiv + 124 halaman | ISBN: 978-979-22-6608-5

Rating:

image