[Resensi Buku] Rumah Kertas : Takdir Buku-Buku

Tak ada orang yang mau lupa menaruh buku. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

wp-image-1112992230jpg.jpg

Bluma Lennon, seorang profesor sastra di Universitas Cambrigde, membeli satu eksemplar buku lawas ‘Poems’ karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho. Saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.

Suatu pagi, rekannya mendapati sebuah paket yang dialamatkan kepada Bluma tanpa alamat pengirim. Paket misterius dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku La línea de sombra, terjemahan Spanyol The Shadow-Line karya Joseph Conrad yang pinggiran serta sampul depan-belakangnya dipenuhi dengan serpihan semen kering.

Rasa penasaran yang tinggi membawa sang rekan untuk menyelidiki–sekaligus mengembalikan buku tersebut kepada si pengirim.

*

picsart_11-10-04.57.31.jpg
Sekadar menegaskan–sekaligus mengingatkan, buku ini hanya setebal tujuh puluh enam halaman. Tapi sensasi setelah membaca buku ini sungguh jauh dari jumlah halamannya sendiri.

Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” -New York Times-

Betul.

Sejak halaman pertama, pembaca sudah akan dibawa ke dalam dunia para penulis dunia. Dibuka dengan kisah tragis Bluma yang menjadi ‘korban’ buku. Paragraf selanjutnya mulai mengajak pembaca memasuki takdir orang-orang dengan buku. Continue reading

[Resensi Buku] Strawberry Cheesecake : Manis Asam Cinta dalam Stroberi

Kamu harus terus belajar kalau tidak mau tertinggal. Betapa pun berbakatnya kamu, orang-orang yang belajar akan mengalahkan kamu, dan orang yang belajar paling banyak yang akan jadi pemenangnya.”

img_20161014_2036111Alana adalah seorang selebritis yang ‘terjebak’ dalam acara memasak di tv. Ia menyadari bakatnya adalah dunia entertainer, bukan di dapur. Tetapi demi Aidan, yang menyukai perempuan yang bisa memasak, ia akhirnya menerima tantangan dalam acara masak tersebut. ‘Toh, aku bisa belajar masak dari youtube,’ pikir Alana.

Tempat diadakannya tantangan dalam acara masak tersebut adalah sebuah deli yang terletak di daerah Bandung yang bernama Strawberry Garden Deli. Saat kali pertama menginjakkan kaki di tempat itu, di depan kamera tv yang sedang menyala, Alana menangkap sosok pengunjung yang ingin kabur tanpa membayar makanan terlebih dahulu.

Insiden tersebut mempertemukannya dengan Regan—si pelaku yang ia tangkap basah—yang ternyata sudah kali kedua ia temui tetapi tak ingat di mana ia pernah bertemu lelaki itu. Di luar dugaan, Regan yang berpenampilan sangar itu ternyata memiliki bakat memasak. Sadar karena dalam dua tantangan sebelumnya di Strawberry Garden Deli dirinya selalu kalah telak, Alana berpikir untuk menjadikan Regan sebagai ‘guru memasak’nya. Sayangnya, permintaan tersebut tak semudah membeli sepatu-sepatu bermerek bagi Alana. Ia harus memohon mati-matian agar akhirnya Regan mau mengajarinya memasak, meskipun dengan syarat yang sungguh membuat Alana bingung.

Apakah syarat yang diajukan Regan? Berhasilkah Alana melewati tantangan dalam reality show memasak tersebut dan membuat Aidan terkesan? Banyak hal yang dilalui Alana selama syuting acara memasak yang lambat laun membuatnya berpikir, “Apakah memang benar ini yang kuinginkan untuk orang yang kucintai?” Continue reading

[Resensi Buku] Critical Eleven : Tiga Menit Pertama

Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri.”

20160503_173829

Aku lupa baca di mana, dalam dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit itu, para air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu critical eleven ini. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, I think it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? Senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance. Semua terjadi dalam tiga menit pertama.

And then there’s the last eight minutes before you part with someone. Senyumnya, tindak tanduknya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda apakah akhir pertemuan itu akan menjadi “andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi” atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.

Tanya ‘Anya’ Letitia Baskoro dan Aldebaran ‘Ale’ Risjad kali pertama bertemu dalam penerbangan dari Jakarta menuju Sydney. Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi setiap orang. Satu menit tetap senilai enam puluh detik, namun lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan yang sedang dimabuk asmara.

Dan itulah yang dialami Ale, seorang petroleum engineer, kepada Anya, seorang management consultant. Ale merasa hatinya jatuh pada kali pertama pertemuannya dengan Anya. Hanya sebulan setelah pertemuan ‘singkat’ di dalam pesawat tersebut, mereka akhirnya berpacaran lalu menikah setahun kemudian.

Memasuki usia pernikahan kelima tahun, mereka mendapat musibah yang cukup berat bagi pasangan suami istri, Anya keguguran saat usia kehamilannya memasuki bulan kesembilan.Duh, nyesek banget pasti, ya? Anya dan Ale mencoba tegar dan saling menguatkan … sampai dua pekan setelah anak mereka meninggal. Ale mengeluarkan kata-kata yang pada akhirnya membuat hubungan kedua pasangan ‘sempurna’ ini menjadi seperti orang asing di rumah sendiri. Perkataan yang membuat Anya merenungkan kembali arti lima tahun kebersamaan mereka. Memikirkan kembali makna pertemuan singkat mereka.

Mungkin begini sewajarnya nasib sebuah pernikahan yang dimulai dengan jatuh cinta dalam tujuh hari. Sewajar hujan yang membasahi tanah. Sewajar api yang berasa panas. Dan mungkin, sewajar membenci seseorang yang dulu pernah jadi alasan kita percaya cinta.” Continue reading

[Resensi Buku] My Wedding Dress : Teman Perjalanan yang Menyenangkan

Pada setiap kepergian, sakit bukan hanya milik mereka yang ditinggalkan, melainkan juga milik mereka yang memilih pergi.

Exif_JPEG_420

Apa yang akan kamu lakukan jika sesaat sebelum memasuki ruang ijab qabul atau altar pernikahan ternyata calon mempelaimu tidak muncul? Hancur? Sesak? Menangis sejadi-jadinya? Mari bertanya pada perempuan cantik bernama Abigail Kenan Larasati.

Abby masih tidak percaya dengan apa yang terjadi tepat di hari pernikahannya. Dengan sisa-sisa kekuatan, dia menunggu Andre—sang calon suami—hingga berjam-jam, berharap ada keajaiban yang membawa Andre tiba di tempat upacara pernikahan. Kenyataannya … Andre tak pernah datang. Lelaki itu menghilang sesaat sebelum mengikat Abby di altar pernikahan.

Abby merasa dunianya seketika runtuh. Mimpi untuk membangun keluarga bahagia bersama Andre luruh bersama air matanya. Sejak peristiwa itu ia menutup diri dari sekitar bahkan orang-orang terdekatnya. Ia membenci tatapan kasihan yang diberikan orang-orang kepadanya. Abby hidup membawa luka-luka yang tak pernah ia biarkan mengering. Di depan adik dan kedua orang tuanya ia berpura-pura terlihat baik-baik saja.  Ia mencandu rasa sakitnya sendiri.

“Sendirian seperti sekarang ditambah sedikit kenangan dengan Andre berhasil membuatku galau dan menangis.”

Setelah setahun terjebak dalam kubangan kenangan, Abby memutuskan untuk berhenti memikirkan Andre dan kegagalan rencana pernikahannya. Ia mengumpulkan semua benda yang mengingatkannya pada Andre. Hasilnya? Nyaris lima kantong sampah besar! Sini sumbangin ke Princess aja, sih. Kalau kalian, gimana cara move on­-nya?

Setelah semua ‘sampah’ terkumpul, ternyata ada satu barang yang tertinggal. Apakah itu? Continue reading