[Resensi Buku] Leafie : Belajar dari Keteguhan Ayam Betina

PhotoGrid_1456800478648

Hal seperti ini tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Hal-hal yang berharga tidak akan singgah untuk waktu yang lama.”

Leafie hanya merasa bahagia saat memandangi halaman. Melihat para bebek berlalu-lalang dan anjing yang mengejar-ngejar bebek, mengajak mereka bercanda. Menatap semua itu, meski dari balik kandang kawat, lebih menyenangkan dibandingkan dengan menghabiskan makanan.

Ya, Leafie adalah seekor ayam petelur. Sudah setahun lebih sejak Leafie dimasukkan ke dalam kandang kawatnya untuk bertelur setiap harinya. Ia tak bisa mengepakkan sayapnya, pun dengan berjalan-jalan seperti keluarga hewan di halaman. Ia tak bisa mengerami telur-telurnya—meski diam-diam ia sangat ingin. Keinginan yang muncul setelah ia melihat ayam betina di halaman sedang berkeliaran dengan anak-anaknya. Leafie sangat ingin mengerami telur dan melihat kelahiran anak ayam. Sekali saja.

Suatu hari, kesempatan untuk terbebas dari kandang kawat itu muncul. Sayangnya, Leafie harus berjuang mati-matian agar bisa bertahan hidup. Ia terjebak dalam lubang yang penuh dengan bangkai ayam. Leafie nyaris dimangsa oleh musang pemangsa jika tidak segera ditolong oleh Bebek Liar.

Akhirnya Leafie terbebas—sementara—dari musang. Ia berjalan menuju tempat keluarga halaman berada dan minta agar diizinkan bergabung bersama aam, bebek, dan anjing di halaman. Sayangnya, Leafie ditolak dan disuruh pergi meninggalkan halaman. Leafie lalu meninggalkan halaman dan dimulailah petualangan si Ayam Buruk Rupa.

Dimulai dari keajaiban yang datang suatu malam. Leafie akhirnya bisa mengerami sebuah telur. Meski belum tahu siapa pemilik telur tersebut, Leafie merasa sangat senang dan terharu karena bisa merawat dan mengerami telur tersebut. Ternyata, setelah telur itu menetas yang muncul bukanlah anak ayam tetapi anak bebek.

Bukannya meninggalkan si bebek yang diberi nama Greenie dengan gerombolannya, Leafie malah merawat bebek tersebut dengan penuh kasih dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Berdua mereka melalui hari-hari penuh perjuangan, kewaspadaan, dan hidup berpindah-pindah.

Leafie harus mengahadapi segala kesulitan yang mungkin tak pernah dibayangkan saat ia di balik kandang kawat. Mulai dari dimusuhi oleh sesama hewan, nyaris mati dimangsa, kehilangan teman, bertahan hidup, kekurangan makanan, sampai tak punya tempat untuk menetap.

Apakah Leafie tetap bahagia?

*

Leafie merupakan salah satu fabel kontemporer yang terkenal di Korea. Dikisahkan dengan sangat indah oleh Hwan Sun-mi. Tentang pengorbanan, kekuatan, semangat, cinta, dan kebebasan sejati. Ada beberapa tokoh yang cukup ‘kuat’ dalam buku ini. Pertama, Leafie si ayam betina yang pantang menyerah. Ia menamai sendiri namanya dengan Leafie yang berasal dari kata leaf yang berarti daun, salah satu hal yang paling disukainya. Ia memiliki mimpi dan dengan sekuat tenaga mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Kedua, Bebek Liar atau Si Pengelana adalah seekor bebek yang menghuni halaman rumah dan terkadang disisihkan oleh keluarga bebek yang memberinya tumpangan. Ia adalah seekor bebek yang baik hati, berani, dan rela berkorban. Ketiga, Greenie dari kata green atau hijau seperti daun. Greenie adalah anak dari telur yang dierami Leafie. Seekor bebek yang ceria dan berbeda dari lainnya. Bagi Leafie, Greenie adalah bebek yang istimewa. Lalu ada Musang yang tak pernah menyerah mengincar Leafie dan Greenie, Pasangan Ayam Jantan dan Betina, kelompok bebek putih, dan anjing tua penjaga halaman.

PhotoGrid_1456800312239

Greenie

Aku telah sadar kalau aku baru merasa bahagia saat bersama Ibu. Karenanya, aku pulang, Ibu.”

Saya selalu suka membaca buku cerita anak-anak, dongeng, maupun buku yang tokohnya adalah seorang anak-anak. Saya seakan diajak plesiran ke masa kanak-kanak dulu. menikmati kisah lumba-lumba, bertemu gadis korek api, kurcaci-kurcaci, ataupun kisah petualangan di negeri antah berantah. Leafie mengingatkan saya pada ibu dan ayah yang sering sekali membacakan cerita. Mengingatkan saya bahwa sampai sekarang terlalu banyak pengorbanan yang orang tua saya berikan agar anak-anaknya bisa bertahan hidup. Mengajarkan saya untuk menjadi seorang pejuang yang memiliki mimpi-mimpi yang tak akan pernah berhenti untuk diwujudkan.

Buku ini tak hanya cocok dibaca oleh anak-anak, tetapi bisa dibaca semua umur. Melalui seekor ayam dengan leher botak, kurus, dan tua, kita diajarkan tentang pengorbanan, semangat, dan cinta. Tentang sebuah hubungan yang dibangun bukan dari ‘hubungan darah’ tetapi oleh perasaan saling membutuhkan dan saling cinta.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi di dalamnya—meskipun ilustrasinya mungkin tidak terlalu menarik untuk ukuran anak-anak karena tidak kaya warna atau tidak ‘cerah’. Terjemahannya pun sangat nyaman dibaca. Kekurangan—jika bisa disebut kekurangan—dalam buku ini hanyalah beberapa kesalahan pengetikan. Misalnya, pada kata ‘Leafia’ pada halaman 171 yang harusnya ‘Leafie’. Selain itu, saya rasa novel ini cukup pantas untuk direkomendasikan.

PhotoGrid_1456800173258

Leafie si Ayam dan Greenie si Itik

Mengutip kalimat Kim Seo Jeong, seorang Kritikus Sastra Anak-anak, yang terdapat pada halaman belakang buku ini: Ada tiga jenis ayam betina dalam buku ini. Pertama adalah ayam betina tanpa pikir panjang yang hanya makan dengan kenyang walaupun harus terkunci di dalam kandang kawat tanpa bisa mengerami telurnya sendiri. Kedua adalah ayam betina yang hidup di halaman dengan ayam jantan dan anak-anak ayam. Ia bisa hidup dengan penuh kepuasan, tapi selalu ketakutan seseorang akan ikut campur dan menghancurkan kesehariannya. Dan ketiga adalah ayam betina yang menyimpan keinginan untuk mengerami telur dan menyaksikan kelahiran anak ayam, sampai pada akhirnya ia bisa mewujudkan keinginan itu.

Kamu mau menjadi ayam betina yang mana?

*

Identitas buku

Judul buku : Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Judul asli : Madangeul Naon Amtak

Penulis : Hwang Sun-mi

Ilustrasi : Kim Hwang Young

Penerjemah : Dwita Rizki Nientyas

Penyunting : Esti A. Budihabsari

Penerbit : Qanita

Tahun terbit : 2013

Jumlah hal. : 224 halaman

ISBN : 978-602-9225-75-4

**

Rating:

photogrid_1439379776419-1.jpg

 

[Resensi Buku] Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan : Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Kisah Cinta Rumit dan Tokoh yang Sulit Dimengerti

Aku menjadi yakin bahwa pada dasarnya perempuan punya watak pelupa jika telah mendapatkan cinta lain yang membuatnya nyaman berlindung di dalamnya.”

2016-02-20_01.11.26

Renja, sang tokoh utama dalam novel ini, akhirnya bertemu dengan Adel, teman masa kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik dan berani. Pertemuan keduanya terjadi di bangku kuliah, saat keduanya—ternyata—kuliah di kampus dan fakultas yang sama. Renja mengambil Jurusan Arsitektur sedangkan Adel mengambil Jurusan Teknik Sipil di Kampus Merah.

Pertemuan dua teman kecil ini tak hanya membuka jalan ingatan masa kecil mereka, tetapi juga menyadarkan salah satunya bahwa ternyata ada cinta yang ia pelihara sejak kecil… dan tak pernah padam hingga kini. Perjalanan untuk mendapatkan cinta salah satunya ternyata tak semulus yang dikira. Kini, ada orang lain di antara mereka. Bukan hanya itu, perasaan bersalah yang dibawa dari masa lalu makin membuka jurang tak nampak di antara mereka.

Pada akhirnya, bagi Renja, yang sulit dimengerti adalah perempuan.

*

Novel 245 halaman ini menggunakan sudut pandang Renja sebagai pencerita. Ada banyak tokoh yang masing-masing karakternya mudah dibaca. Renja si tokoh utama yang mencintai Adel, melankolis, dan labil; Adel yang seorang aktivis, pintar, dan memiliki senyum menawan; Rustang yang adalah sahabat Renja yang bisa diandalkan, humoris, dan doyan ikut demonstrasi;  Ketua BEM—yang sampai cerita selesai tak diketahui namanya—yang cerdas, dewasa, dan berwibawa; Kumala yang sebenarnya adalah perempuan idaman Rustang, tetapi malah mencintai Renja; Naufal teman kos Renja yang juga mahasiswa kedokteran gigi dan juga kutu buku.

Tokoh dalam buku ini saling berhubungan satu sama lain. Tak heran kalau sudah selesai membaca bukunya kalian juga akan berkomentar bahwa tokoh-tokoh dalam novel ini seperti rantai makanan yang berputar di area itu-itu saja. Tak ada tokoh kejutan. Hanya ada karakter tokoh yang rumit—alih-alih sulit dimengerti.

Konflik utama yang disajikan penulis tak lain dan tak bukan adalah tentang cinta. Bedanya, novel ini menyuguhkan hal lain selain tema yang sudah sangat klise itu. Penulis mengangkat kasus Kospin (Koperasi Simpan Pinjam) yang terjadi di Pinrang sekitar tahun 1998, yang pada saat itu investasi Kospin yang jumlahnya sekitar 800 Miliar dibawa kabur oleh para pemimpinnya dan memicu kerusuhan massal (halaman 60). Kospin menjadi salah satu benang merah penghubung antara Renja dan Adel—satunya anak korban dan satunya anak pelaku. Selain itu, penulis menyuguhkan hal yang berbeda tentang kehidupan mahasiswa yang sering muncul dalam novel-novel lain. Fitrawan dengan berani mengangkat kehidupan mahasiswa Kampus Merah—yang identik dengan salah satu kampus di Makassar—yang sering tawuran antar-fakultas, demonstrasi, bahkan sampai kelakuan para mahasiswa saat Ospek.

Menurut saya, ada dua karakter yang lebih menarik dari dua tokoh utama dalam novel bersampul indah ini; Rustang dan Naufal. Rustang adalah tokoh dengan karakter yang let it flow. Dia menanggapi masalah dengan santai dan tidak dibawa lebay atau melankolis. Bahkan ketika Kumala, gadis pujaannya, lebih memilih Renja daripada dirinya, dengan lapang dada Rustang menerimanya. Rustang adalah penetrasi sikap Renja yang terlalu ‘lemah’. Sedangkan Naufal adalah sosok dewasa yang lewat kalimat-kalimat bijaknya menasihati Renja tiap tokoh utama kita down. Naufal juga mewakili orang-orang yang pada zaman ini masih terikat tradisi dijodohkan dengan perempuan yang masih memiliki hubungan keluarga.

Kalau kau sakit gigi, meski saya belum selesai kuliah, saya bisa mengatasinya. Tapi kalau kau sakit hati, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau hanya bisa melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan dari pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” (Halaman 153).

Selain kelebihan dan kekurangan di atas, satu hal yang sedikit mengganggu saya adalah bahasa yang digunakan oleh tokoh. Antara mau menggunakan dialek Makassar dengan bahasa Indonesia yang baku, jadinya agak kaku dibaca. Mungkin lebih baik menggunakan bahasa Indonesia saja agar pembaca dari luar Makassar pun tidak terlalu ‘aneh’ saat membaca dialog-dialog tokohnya. Toh dengan penyebutan latar tempat dan budaya atau sesekali bahasa daerah para tokohnya, pembaca akan paham bahwa tokoh-tokohnya berbicara dengan logat atau dialek Makassar.

Kenapa masih mau berteman dengan saya?” Riak ombak menjadi latar suaranya, menambah efek penasaranku akan jawabannya. “Bukannya dirimu seharusnya membenciku?”

“Siapa yang mau berteman? Saya bilang mau lebih dari sekadar teman.”

“Tapi kenapa suka sama saya?”(Halaman 109).

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan di atas, novel ini cocok dibaca untuk siapa saja. Mulai dari remaja, ABG, dewasa, pelajar, mahasiswa, orang kantoran, atau yang pengangguran silakan baca buku ini. Banyak kritik dalam novel ini, kepada pemerintah, birokrasi kampus, bahkan kepada mahasiswa—yang katanya agent of change.

*

Identitas buku

Judul buku : Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Penulis : Fitrawan Umar

Penyunting : Pringadi Abdi

Penyelaras Akhir : Shalahuddin Gh

Pemindai Aksara : Chandra Citrawati

Penata Letak: desain651

Desain Sampul: Iksaka Banu

Penerbit : Exchange

Tahun terbit : 2015

Jumlah hal. : 245 halaman

ISBN : 979602727933-9

**

Rating:

wpid-photogrid_1439379776419-2-1.jpg

 

[Resensi Buku] 1 Perempuan 14 Lelaki : Tema yang Berulang

Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa memesan segelaa bir, tetapi kita tak pernah bisa memesan takdir.”

image

Bagaimana jadinya kalau seorang penulis perempuan berkolaborasi menulis cerpen dengan 14 orang lelaki yang memiliki latar belakang profesi yang berbeda-beda?

Kumpulan cerpen: 1 Perempuan 14 Laki-Laki akan menjawabnya. Djenar Maesa Ayu bersama 14 lelaki lainnya melahirkan 14 cerpen yang ditulis secara duet. Mulai dari cerpenis, aktor teater, seniman, presenter, penyiar radio, pemain band, pemain film, budayawan, sutradara, dosen, dalang wayang, kritikus film, hingga penari. Proses kreatif bersama keempat belas lelaki tersebut diceritakan Djenar di bagian pembuka kumpulan cerpennya.

Cerita pertama dibuka oleh Kunang-Kunang dalam Bir yang ditulis Djenar bersama Agus Noor. Berkisah tentang seorang lelaki yang mencoba mereguk kembali kenangannya bersama perempuan yang sangat ia cintai. Perempuan yang sayangnya lebih memilih menikahi lelaki lain.

Cerpen lainnya, Rembulan Ungu Kuru Setra, adalah cerpen kedelapan hasil kolaborasi Djenar dengan Sujiwo Tejo. Mengangkat tema perselingkuhan atas nama cinta. Menariknya, Sujiwo Tejo tak menanggalkan kekhasannya dengan menggunakan nama tokoh-tokoh pewayangan dan latar yang berhubungan dengan mitologi-mitologi.

Kamu tahu nggak, kata ayahku, Radityaputra itu nama lainnya Adipati Karna. Kesatria ini sebetulnya anak Kunti, nama lain Prita.” Raditya mengenang percakapan mereka saat salju membentuk jutaan bintang di muka danau beku.

Cerpen kesepuluh berjudul Bukumuka adalah hasil kolaborasi Djenar dengan Nugroho Suksmanto. Judul yang diambil dari terjemahan suatu situs jejaring pertemanan ini lagi-lagi berkisah tentang perselingkuhan. Hanya saja kisah ini ternyata berakhir lebih kompleks. Kusmanto, sang tokoh utama, pada akhirnya dihadapkan pada dilema: melompat dari lantai 36 gedung kantornya ataukah menghadapi kelakuan gila suami selingkuhannya?

Salah satu cerpen favorit saya adalah Ra Kuadrat karangan Djenar dengan aktor Lukman Sardi. Cerpen yang hanya mengambil porsi empat halaman ini berkisah tentang masa lalu sepasang suami istri, Rani dan Ranu. Rani, sang istri, secara tidak sengaja menemukan buku harian suaminya. Dari situ terkuaklah satu rahasia tentang masa lalu sang suami.

Keseluruhan cerpen-cerpen dalam buku ini memiliki tema yang mirip-mirip. Seks, perselingkuhan, dendam, penyesalan dan perasaan sakit. Gaya berceritanya pun seperti cerpen-cerpen Djenar yang pernah saya baca, terkhusus konten-konten dewasa–dan vulgar. Terasa seperti semua cerita dalam buku ini adalah buah ide Djenar yang kemudian dikembangkan berdua. 

Konsep yang ditawarkan Djenar dengan menggaet 14 lelaki untuk berkolaborasi menulis cerpen sebenarnya sangat menarik. Hanya saja dalam proses pengeksekusiannya menurut saya tidak begitu berhasil. Beberapa tulisan bahkan berhasil membuat saya frustrasi karena tak mengerti apa yang ingin disampaikan. Bahkan ada beberapa cerpen yang saya baca berulang. Entah karena bahasanya yang terlalu ‘tinggi’ dan berbunga-bunga ataukah memang otak saya tidak cepat tanggap mencerna. Entah….

Terlepas dari kekurangan dan berbagai hal yang mengganjal di atas, saya mengapresiasi Djenar dan keempat belas lelaki yang menulis di dalam buku ini. Bagaimanapun, menulis berdua itu tidak mudah dan tantangannya bisa dua kali lipat juga. ^^
———————————–
Judul buku: 1 Perempuan 14 Lelaki | Penulis: Djenar Mesa Ayu, Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet Kertaredjasa, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robet, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo, Totot Indrarto | Editor: Mirna Yulistianti | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2011 | Jumlah halaman: xiv + 124 halaman | ISBN: 978-979-22-6608-5

Rating:

image

[Review Buku] Melihat Api Bekerja: Tentang Perempuan dalam Karya @hurufkecil

image
Saya merasa Aan berhadapan dengan saya dan dengan seenaknya menyampaikan apa yang terlintas dalam pikirannya. Ia tidak berpura-pura menyusun kata dan kalimat yang dilem dengan kausalitas–ia ‘ngomong’ saja.” (Sapardi Djoko Damono)

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia.
Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa.
Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja.
Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka.’

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya.
Mereka tahu apa yang mereka cari.
Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.’
(Menikmati Akhir Pekan)

Menyenangkan membaca 54 puisi karya M Aan Mansyur dan 60 ilustrasi karya Emte yang terangkum dalam buku ini. Seperti yang dikatakan Sapardi dalam kata pengantarnya, membaca karya Aan Mansyur seperti mendengar langsung apa yang penyair berkacamata ini ingin sampaikan. Seperti “ada Aan yang sedang bercerita di kepalaku”. Isinya penuh dengan emosi, curahan hati, kritik, nasihat, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan kita–pembaca–ingin tanyakan. 

Ilustrasi yang terdapat dalam buku ini merupakan hasil penerjemahan bebas Sang Ilustrator, Muhammad Taufik–Emte, terhadap karya-karya Aan Mansyur. Penerjemahan Emte atas karya-karya Aan sebagian besar berpusat pada perempuan. Ini bisa dilihat dari ilustrasi-ilustrasi yang hadir dalam buku ini. Warna (seperti) tanah yang digunakan dalam ilustrasinya pun makin menegaskan emosi dari puisinya.

Membaca puisi sembari menerjemahkan atau menghubungkan ilustrasi dengan puisinya tentu bentuk lain dari menikmati puisi itu sendiri.

Dalam beberapa puisi, saya seperti mendapati Aan sedang berbicara pada seorang perempuan. Entah itu Ibu, sahabat, bahkan kepada kamu–perempuan yang ia cintai. Dalam puisi lain, Aan sedang bercerita kepada saya–pembaca–tentang perempuan lainnya. Puisi favorit saya selain Melihat Api Bekerja, adalah Pulang ke Dapur Ibu dan Surat Pendek buat Ibu di Kampung.

Dalam beberapa cerita–baik itu cerpen atau novel–yang ditulis Aan, ada cerita soal Ibu. Apa yang saya baca dalam cerpen dan novel (dalam hal ini novel Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi) saya temukan dalam puisi-puisi Aan di buku ini. Aan bercerita melalui puisi-puisinya, kepada pembacanya tentang sosok ibu dalam pandangannya.

Aku memilih tinggal di kota dan itu adalah hukuman. Jangan pernah mengunjungiku, agar aku bisa tiba-tiba merindukanmu di antara hal-hal yang teratur.

Agar aku memiliki satu hal indah yang bisa membuat dadaku bersedih sebelum tidur memeluk diri sendiri dan tidak memimpikan apa-apa selain masa silam di rahimmu
(Surat Pendek buat Ibu di Kampung)

Saya sungguh tidak mengerti teori-teori sastra, apalagi soal puisi. Saya hanya penikmat dan ‘menyenangkan’ adalah satu kata untuk menggambarkan suasana hati saya ketika menikmati puisi-puisi @hurufkecil ini.

‘Di kota ini ruang bermain
adalah sesuatu yang hilang
dan tak seorang pun berharap
menemukannya. Anak-anak tidak butuh permainan. Mereka akan memilih kegemaran masing-masing setelah dewasa. Menjadi dewasa bukan menunggu negara bangun. Menjadi dewasa adalah menu favorit di restoran cepat saji.‘ (Melihat Api Bekerja)

———————————–
Judul buku: Melihat Api Bekerja | Penulis: M Aan Mansyur | Ilustrator: Emte | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2015 | Jumlah halaman: 160 halaman | ISBN: 978-602-03-1557-7

-dhilayaumil-