[Resensi Buku] Hate List : Tentang Cinta, Kebencian, dan Penyembuhan Diri

“Begitulah semuanya dimulai: Daftar Kebencian yang terkenal. Dimulai sebagai lelucon. Sebuah cara untuk melampiaskan frustrasi. Hanya saja, daftar itu tumbuh menjadi hal lain yang tidak pernah kuduga.”  (Hate List, halaman 122)

1511159129179[1]

Apa yang kamu ingat terkait tanggal 2 Mei? Hari Buruh? Atau–yang bagi saya–ulang tahun David Beckham, salah satu legenda sepak bola Inggris dan Real Madrid. Tanggal 2008 bagi siswa Garvin High School sendiri sangat berarti dan mungkin membawa mimpi buruk bagi sebagian lainnya.

Seorang siswa melakukan penembakan di The Commons, kafetaria sekolah. Nick Levil, pemuda tersebut, menembaki orang-orang yang namanya ada dalam Daftar Kebencian yang ia dan pacarnya, Valerie Leftman, buat. Daftar tersebut berisi nama dan hal-hal yang Valerie dan Nick benci.

Valerie dipaksa untuk menghadapi rasa bersalahnya ketika ia harus kembali ke sekolah beberapa bulan setelah insiden tersebut. Ia dibayangi oleh rasa cintanya Continue reading

Advertisements

[Resensi Buku] The Fill-in Boyfriend : Pacar Bohongan dan Kebohongan yang Lain

“Tidak seorang pun pernah memandangku dengan intensitas seperti yang cowok ini berikan. Tidak seorang pun yang kelihatannya pernah melihat ke dalam diriku, melewati apa yang tampak jelas. Tapi dia benar-benar hanya merasa kasihan padaku. Dia tidak mengenal diriku sama sekali.”

1508505862411

Gia putus dengan Bradley, pacarnya di parkiran, tepat sebelum memasuki tempat prom berlangsung. Ia harus segera menemukan pengganti Bradley untuk dibawa ke pesta prom, sebab teman-temannya selama ini tak percaya bahwa Bradley benar-benar ada. Salah satu—atau mungkin satu-satunya?—lelaki yang sedang berada di parkiran, yang kebetulan sedang mengantar adiknya, tiba-tiba saja sudah menjadi pacar bohongan Gia—dalam hal ini berarti ‘Bradley Palsu’. Mereka hanya akan berpura-pura menjadi pasangan selama kurang lebih dua jam, selama pesta berlangsung. Continue reading

[Resensi Buku] Magnetto : Kisah dari Balik ‘Dapur’ Magne

Magne, tetaplah menjadi baik, sekalipun seluruh dunia menyakitimu. Dan teruslah menjadi kuat, nggak peduli seberapa keras pun orang lain berusaha menghancurkanmu.” (Halaman 95)

1507383936854[1]

Magnesia Hanggara. Seorang siswa kelas 3 SMK Jurusan Tata Boga, yang keadaan keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Masalah pelik di rumah ia bawa dan lampiaskan di sekolah bersama sahabat-sahabatnya; Netto, Airin, dan Gama. Kenakalan yang menurutnya menyenangkan. Setidaknya itu bisa membuatnya melupakan sejenak masalah kedua orang tuanya.

Netto Adi Putra. Sahabat sekaligus pacar Magne. Lelaki yang selalu menjadi benteng pertahanan Magne. Ia hidup bersama ibu dan adik perempuannya. Netto adalah sosok humoris, tetapi juga dewasa. Magne bahkan mungkin sudah sangat bergantung pada Netto.

Hubungan mereka selama dua tahun baik-baik saja. Meski banyak perbedaan di antara mereka, Magne merasa baik-baik saja. Meski masalah keluarganya kadang sudah terlalu berat, selama ada Netto, Magne masih bisa tersenyum.

Masalahnya adalah, akankah hubungan mereka bertahan? Saat Magne melakukan kesalahan yang membuat Netto merasa marah, akankah Netto memaafkannya? Lalu bisakah Magne menghadapi masalah dengan kedua orang tuanya sendirian? Continue reading

[Review Buku] Truth or Dare : Tentang Persahabatan dan yang Pergi Diam-diam

image

Saat mencintai seseorang, apapun kesalahannya, kamu tidak akan bisa begitu saja berhenti mencintainya

Proyek GagasDuet yang diusung penerbit GagasMedia melibatkan dua penulis Gagas yang sudah cukup berpengalaman. Truth or Dare adalah novel gagasduet pertama yang saya baca. Sedangkan ini karya ketiga Winna Efendi yang saya baca–setelah Ai dan Remember When. Karya Yoana Dianika sebelumnya saya sudah membaca Hujan Punya Cerita tentang Kita.

“Friendship is unnecessary, like philosophy, like art. It has no survival value, rather it is one of those things that give value to survival.” -C. S. Lewis-

Truth or Dare terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama ditulis oleh Winna Efendi dan bagian kedua ditulis oleh Yoana Dianika. Masing-masing menulis dari sudut pandang orang pertama. Winna menulis melalui tokoh Alice dan Yoana menulis melalui tokoh Catherine atau Cat.

Novel bersampul biru ini bercerita tentang persahabatan Alice dan Cat di sebuah kota kecil bernama Belfast.

Aku lahir dan besar di Belfast, sebuah kota di Waldo County di Maine, bagian Amerika Serikat yang dekat dengan laut. Kota ini termasuk kota kecil sehingga aku dan anak-anak sebayaku kebanyakan tumbuh besar bersama, dan berakhir di sekolah yang sama. -Alice-

Alice yang pendiam dan Cat yang tomboy. Alice yang disleksia dan Cat yang populer. Persahabatan mereka baik-baik saja, bahkan ketika kedatangan ‘tamu’ bernama Julian, seorang siswa pertukaran pelajar dari Indonesia. Julian yang ramah dan menyenangkan langsung bisa membaur di antara kedua sahabat itu dan menjadi bagian di dalam persahabatan itu.

Cat. Truth or dare?”

“Dare.”

Temui Julian, dan beritahui dia tentang perasaanmu yang sesungguhnya.

Begitulah akhirnya Cat dan Julian berpacaran. Meski diam-diam Alice juga menyimpan perasaan pada Julian, tapi rasa sayangnya pada Cat lebih besar dari apapun. Maka, ia baik-baik saja ketika kedua sahabatnya jadian.

Tak ada yang berubah di antara mereka bertiga. Masih sering makan di kafetaria bersama, jalan bersama, ke pantai bersama, dan melakukan hal menyenangkan lainnya.

Sampai suatu ketika, satu kejadian mengubah hubungan yang begitu dekat itu tiba-tiba rapuh dan merenggang.

We’ll be friends, won’t we, Pooh?” asked Piglet.
“Even longer,” Pooh answered.
-A. A. Milne-

Menyenangkan membaca penuturan Alice yang ditulis Winna Efendi. Awalnya saya berkomentar, “Seperti membaca terjemahan metropop luar”. Cara Winna bercerita dari sudut pandang Alice, deskripsi kota Belfast yang nyata–salah satu kelebihan Winna ada pada deskripsi tempat yang seolah-olah pembaca diajak ke sana.
Pun dengan Yoana. Seenggaknya saya lebih suka karya Yoana yang ini daripada novel sebelumnya yang saya baca. :p

Time is wisest because it discovers everything” -Tales-

Meskipun mengangkat tema yang klise, yakni persahabatan dan konflik yang benar-benar tertebak, tapi ending yang lumayan beda diberikan novel ini. Oh, dan juga novel ini banyak diselipi quote-quote dari tokoh terkenal seperti yang sempat saya kutip di atas.

Hanya saja ada beberapa poin yang cukup membuat ‘kecewa’. Hihihihi.

Meski cerita ini lebih fokus ke kisah persahabatan Cat dan Alice dan bukan kisah romance, tapi porsi Julian dalam cerita kurang. Padahal Julian berpotensi menjadi titik tengah antara dua tokoh ini. Hihihi. Selain itu pengulangan cerita dari sudut Cat cukup membosankan. Awalnya saya kira Cat akan membawa cerita baru, tapi ternyata sama saja dengan cerita dari sudut Alice. Hanya berbeda sudut pandang saja. Jujur, saya melompat-lompat membaca part Cat. Huhuhuhu 😦

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik dari segi gaya bercerita. Lagipula gaya duet yang lumayan cukup baru diusung oleh gagasmedia cukup membawa ‘pencerahan’ di dunia teenlit dan metropop Indonesia. Hakhakhak.
Nah, kalau penasaran, silakan baca.
———————————-
Judu buku: Truth or Dare | Penulis: Winna Efendi & Yoana Dianika | Editor: eNHa | Proofreader: Resita Wahyu Febiratri | Jumlah halaman: viii + 304 halaman | Tahun terbit : 2012 | ISBN: 979-780-566-2

-dhilayaumil-