[Resensi Buku] Warna Langit : Penutup yang Manis

Sebagai kanak-kanak, dia terus membuntuti langkah-langkah ibunya. Sebagai wanita dewasa, dia mengikuti langkah-langkah suaminya. Dan sekarang sebagai seorang ibu, aku mengikuti jalan ke mana putriku telah pergi menuju rumah barunya. Begitulah kehidupan seorang perempuan, hingga hari kematiannya...”

image

Ehwa, yang telah menjelma menjadi wanita muda yang penuh percaya diri, kini berada dalam situasi seperti yang dialami ibunya: menantikan kekasihnya. Ibunya mengharapkan kembali si tukang gambar, sementara Ehwa memandang bulan yang sama seperti yang dipandangi tunangannya, Duksam, petani yang pergi ke laut untuk mencari peruntungan agar dapat menikahi Ehwa.

Goresan Kim Dong Hwa yang indah dan bahasanya yang teramat puitis menciptakan potret intim kedua wanita yang tumbuh berubah. Namun, tak pernah berkurang cintanya satu sama lain.

*

Warna Langit, seperti dua buku sebelumnya–Warna Tanah dan Warna Air–masih menggunakan analogi-analogi untuk menggambarkan keindahan seorang wanita dan proses menuju kedewasaan, kematangan. Selain itu, ada juga simbolisme yang dipakai dalam upacara adat pernikahan pada zaman itu, seperti bebek kayu sebagai lambang kesetiaan dan nasi sebagai lambang kemakmuran.

“Wanita laksana mawar lumut yang suka tumbuh dan tinggal di dalam halaman. Namun, laki-laki bagaikan pohon kesemak yang terjulur keluar melewati pagar.”

Saya suka saat ibu Ehwa dengan semangat dan penuh cinta menyiapkan pesta pernikahan untuk anaknya. Dijelaskan juga tentang pesta pernikahan adat Korea. Sebagian besar mirip di drama Korea yang sering saya tonton lah ya. Hihihi. Bagian mengharukan juga pada yaitu saat Ehwa tiba-tiba menemukan uban di kepala ibunya. Bahwa seorang ibu tiba-tiba merasa terlalu tua saat mendapati sebentar lagi anaknya akan menikah dan meninggalkannya menuju rumah suaminya.

“Meskipun hujan atau turun salju, di dalam hati aku selalu merasa seperti bunga azalea merah jambu. Tapi sekarang, waktu terasa sangat nyata. Sehelai uban…”

“Kau bisa menyembunyikan sesuatu dari dunia, tapi kau tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari waktu.”

Selain kisah Ehwa menuju pernikahan dan kegalauan ibunya dalam menanti pujaan hati, si tukang gambar, beberapa poin lainnya yang saya temukan dalam buku ini antara lain: cara orang tua mendisiplinkan anak-anak mereka dengan jalan hukuman fisik. Ini persis dengan kebiasaan orang-orang zaman dulu–khususnya di kampung-kampung–dalam cara mendidik anak mereka. Juga tentang kebiasaan laki-laki Korea berkumpul di kedai untuk sekadar menikmati anggur sebagai pengalihan dan pelepas lelah setelah seharian berkutat dengan menggarap tanah.

“Yang mereka lihat sejak membuka mata di pagi hari adalah bajak dan ladang. Kadang-kadang mereka mungkin bertanya-tanya apakah mereka hanya sekadar hewan beban. Maka mereka mengurangi beban mereka dan berinteraksi dengan minum anggur beras dan mengobrol ngalor ngidul.

Tak ada bedanya bagaimana seorang laki-laki dan wanita merindukan persahabatan.”

‘Persahabatan’ aneh yang dijalani Ehwa dan Bongsoon pun berlanjut sampai buku ketiga ini.

Ada beberapa adegan dewasa di dalamnya, lebih banyak dibanding dua buku pendahulunya. Bahkan ada adegan sepasang tua yang saya skip. Heuh.

Bagaimanapun Warna Langit menjadi penutup yang cukup manis dari Trilogi Warna. Di dalamnya masih menggambarkan keindahan alam Korea selayaknya keindahan seorang wanita. ^^

———————————–
Judul buku: Warna Langit (#3 Trilogi Warna) | Kategori: Novel Grafis Dewasa | Penulis: Kim Dong Hwa | Penerjemah: Rosi L. Simamora | Penyunting: Tanti Lesmana | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2011 | Jumlah halaman: 328 halaman | ISBN: 978-979-22-6525-5 |
Rating: ♥♥♥

-dhilayaumil-

[Resensi Buku] Warna Air : Bunga yang Mekar dalam Tubuh Ehwa

Jalan seorang wanita berbatu, dan jikalau kau tidak berhati-hati, kau akan tersandung dan jatuh dan pincang sepanjang hidupmu. Hidupmu akan sulit dan selamanya kau akan jadi bahan tertawaan dan diasingkan
image

Warna Air merupakan buku kedua dari Trilogi Warna. Jika dalam buku Warna Tanah berkisah tentang kehidupan Ehwa kecil yang beranjak menuju remaja, maka dalam buku ini Ehwa sudah menjalani kehidupan remajanya di Desa Namwon. Hubungan Ehwa dan ibunya semakin dekat dan makin banyak pelajaran-pelajaran berharga tentang hidup, kedewasaan, dan hati perempuan yang didapat Ehwa dari Sang Ibu.

Ehwa yang sempat merasakan patah hati bertemu dengan lelaki bernama Duksam yang awalnya membuat dirinya kesal. Namun, dalam satu situasi mereka bertemu lagi mulai tumbuh perasaan yang berbeda. *ihik

Aku selalu mengira berpacaran itu semanis tebu, tapi kusadari hal itu juga pahit. Dia bagaikan sumur yang tak pernah kering, tak peduli seberapa sering aku menimba airnya, tak peduli seberapa sering aku melihatnya, sepertinya aku takkan pernah puas memandang wajahnya. Kami baru berpisah beberapa menit, tapi aku sudah merindukannya.

Sementara hubungan ibunya dengan si tukang gambar masih berlanjut. Kuas-kuas yang ditinggalkan si tukang gambar sudah tidak muat lagi digantung di dinding. Selain kisah percintaan ibu dan anak tersebut, muncul juga Nenek Dukun yang mencoba melamar Ehwa untuk seorang tua di desa sebelah. Bagaimanakah sikap ibu Ehwa kepada tawaran Nenek Dukun yang ingin meminang Ehwa untuk seseorang dengan harga yang sangat tinggi? Lalu apakah hubungan percintaan ibu dan anak tersebut akan langgeng ataukah bernasib seperti kisah Ehwa dengan dua lelaki sebelumnya?

*

Warna Air masih didominasi dengan gambaran alam indah Korea. Bunga-bunga, buah-buahan, tumbuhan, dan hujan masih menjadi pilihan Kim Dong Hwa untuk menemani perjalanan Ehwa remaja. Analogi-analogi buah-buahan dan bunga-bunga masih sering dipakai ibu Ehwa untuk mengajarkan anaknya yang sedang puber, seperti wangi bunga kastanye yang dikatakan mirip dengan bau tubuh laki-laki atau bunga-bunga sebagai analogi dari perubahan fisik dan psikis seorang perempuan.

Selain perkembangan Ehwa menuju kedewasaan, dalam buku ini juga lebih banyak adegan dewasa dibanding buku pertama. Ehwa pun sudah mulai memiliki pendapat tentang dunia orang dewasa. Selain itu, hubungan antara Ehwa dan ibunya semakin dekat. Meski satu sama lain sudah memiliki rahasia-rahasia, tapi hubungan mereka makin terjalin dikarenakan perasaan saling menyayangi. Mungkin juga karena mereka sama-sama galau karena cinta, ya. :p

“Seorang anak berharga, namun rapuh. Seorang ibu tidak akan membuarkan anaknya tidur di atas lantai yang kasar, makan buah yang bentuknya tidak sempurna, mengenakan pakaian compang-camping, atau menelan makanan yang sulit dikunyah. Begitulah hati seorang ibu.”

Saya masih jatuh cinta dengan penggambaran Kim Dong Hwa tentang alam Namwon yang dikelilingi warna. Juga hubungan yang terjalin antara Ehwa dan ibunya, pesan dan nasihat seorang ibu untuk anak perempuan yang beranjak dewasa, rahasia-rahasia yang malu-malu disembunyikan dan bagaimana kasih sayang Sang Ibu untuk anak tunggalnya itu. :’)

“Kau bukan anak kecil lagi. Di usiamu sekarang, kau harus berhati-hati dengan hati dan tubuhmu dan membawa diri dengan penuh harga diri.”

Selain itu, pribadi Ehwa juga sudah tumbuh layaknya remaja-remaja yang kadang polos, kadang jail, dan kadang ‘centil’. Hahaha. Kadang agak jengkel dengan perangai Ehwa yang suka merasa cantik dan menghina Bongsoon. Ya, walaupun Bongsoon sikap dan sifatnya menunjukkan tidak terlalu bertanggung jawab dan dewasa sebelum waktunya, tapi sikap Ehwa kadang lebih kasar ke Bongsoon.

Percakapan dan tingkah laku yang sudah mulai mengarah ke adegan dewasa juga lebih banyak. Oh, iya, ada percakapan antara Bongsoon dan Ehwa yang menyatakan bahwa di Korea sana–pada latar waktu cerita ini dibuat–umur 20 tahun dianggap sudah cukup ‘tua’ untuk menikah. Waaahhh.

Nah, penasaran dengan kisah Ehwa menjalani usia tujuh belas tahunnya dan bagaimana kedekatannya dengan ibunya dalam fase ia beranjak dewasa? Jangan lupa baca bukunya, ya! Selamat menikmati sentuhan indah dan romantis yang diberikan Kim Dong Hwa dalam novel grafisnya ini. ^^

Jangan lupa baca buku pertamanya, Warna Tanah, dan buku ketiga, Warna Langit.

——————————-
Judul buku: Warna Air (#2 Trilogi Warna) | Penulis: Kim Dong Hwa | Penerjemah: Rosi L. Simamora | Penyunting: Tanti Lesmana | Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2010 | Jumlah halaman: 320 halaman | ISBN: 978-979-22-5988-9 |
Rating: ♥♥♥

-dhilayaumil-